Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Boyongan - Kota Madiun, Jawa Timur
Upacara boyongan merupakan tradisi pindah rumah yang dilakukan oleh masyarakat Jawa tak terkecuali oleh masyarakat di wilayah Madiun. Tradisi ini diawali dengan mencari hari yang baik sesuai dengan pedoman (pathokan) yang dianut oleh masyarakat Jawa yang biasanya dengan mempertimbangkan keberadaan naga tahun, naga sasi dan hari naas. Proses upacara boyongan bila dilihat secara sepintas seperti arak-arakan atau pawai. Adapun urut-urutannya aadalah dimana yang berjalan didepan sendiri adalah pini sepuh dan biasanya adalah seorang nenek-nenek yang bertugas membawa sapu lidi untuk menyapu sepanjang perjalanan. Menyapu jalanan dengan sapu lidi ini mempunyai makna mengajarkan persatuan untuk menyingkirkan segala halangan atau rintangan dimanapun berada. Urutan selanjutnya adalah seorang yang membawa lampu sebagai penerangan berupa lampu minyak yang merupakan simbol petunjuk atau penjelasan (keterangan) tentang makna sesaji-sesaji yang berada dibelakangnya. Lampu teplok sebagai sebuah pepadhang (penjelasan) tentang ajaran hidup. Kemudian diikuti oleh calon kepala keluarga dengan memundak (membawa cangkul), membawa sabit dan senjata tombak yang pada bagian ujungnya diberi hiasan untaian padi. Sang istri bertugas membawa (menggendong) tikar dan bantal. Tikar dan bantal ini merupakan syarat penting yang tidak boleh tertingggal. Kedua barang tersebut melambangkan peralatan tidur sehingga membawa bantal dan guling berarti pindah tidur (tempat tinggal). Setelah itu disusul dengan rombongan yang terdiri dari sanak saudara, kerabat, tetangga dan sebagainya yang membantu membawa sesaji selamatan dan peralatan rumah tangga seperti jambangan )semacam gentong dengan mulut yang lebar) berisi air, daringan kebak (semacam guci/genthong yang berisis beras), peralatan dapur lengkap, bahan-bahan makanan, ternak dan sebagainya. Sesampainya di lokasi yang menjadi tempat rumah baru, rombongan langsung menuju pintu masuk. Sebelum masuk terjadi dialog antara pinisepuh (nenek yang membawa sapu) dengan penjaga rumah baru yang biasanya adalah seorang kakek atau pinisepuh. Inti dialog tersebut adalah menyampaikan maksud kedatangannya. Setelah diterima kemudian semua rombongan masuk ke dalam rumah dan dilanjutkan dengan selamatan. Adapun sesaji selamatan berupa rasulan atau ambengan yang terdiri dari nasi uduk, ayam ingkung beserta lauk pauknya. Menurut perhitungan Jawa bulan-bulan Jawa yang dianggap baik untuk mengadakan upacara boyongan adalah bulan Sapar, Mulud, Ruwah, Pasa dan Besar sedangkan Rejeb bersifat cukup. Sedangkan hari-hari serta waktu (pukul) yang baik digunakan untuk boyongan adalah: Selasa Pon (06.00-07.00), Rabu Pon (13.00-14.00), Kamis Legi (13.00-14.00), Kamis Pahing (13.00-14.00), Sabtu Kliwon (23.00-24.00), Sabtu Legi (23.00-24.00), Minggu Kliwon (01.00-08.00). Namun dalam perhitungan Jawa masih dikaitkan pula dengan wukon. Adapun wuku yang harus dihindari untuk segala hajatan adalah wukon jelma. - Wukon lokal was Wuku - Satu Rabu Mandasiya Medangkungan Wugu Landhep Wariagung - Iwak Selasa Julung Pujud Maktal Wayang Wukir Julung Wangi - Manuk Senin Pahang Wuye Kulawu Kurantil Sungsang - Wuku Minggu, Sabtu Kuru Welut Manahil Dukut Tolu Galungan - Godhong Jumat Marakeh Prang Bakat Watu Gunung Gumbreg Kuningan - Jelma Kamis Tambir Bala Sinta Warigalit Langkir Dalam upacara boyongan masyarakat Jawa juga sangat memperhitungkan tentang arah keluar dan masuknya dari/ke dalam rumah. Keprcayaan masyarakat tersebut untuk menghindari naga tahun yang bisa membawa celaka atau kesialan. Adapun arah perjalanan yang harus dihindari adalah: Bulan / Hari / Naga Tahun / Naga Sasi / Jati Ngarang / Naga Dina / Naga Pasaran / Ri,Jal Dina / Tempuking Naga Sapar Selasa Pon Utara Barat Timur Barat Barat Timur – Rabu Pon Utara Barat Timur Barat Daya Barat Tenggara – Kamis Legi Utara Barat Timur Tengara Timur Utara – Kamis Pahing Utara Barat Timur Tenggara Selatan Utara – Sabtu Kliwon Utara Barat Timur Timur Laut Tengah Barat Laut – Sabtu Legi Utara Barat Timur Timur Laut Timur Barat Laut – Minggu Kliwon Utara Barat Timur Selatan Tengah Selatan – Selasa Pon Timur Utara Timur Barat Barat Timur Timur Rabu Pon Timur Utara Timur Barat Daya Barat Tenggara Timur Mulud Kamis Legi Timur Utara Timur Tenggara Timur Utara Timur Kamis Pahing Timur Utara Timur Tenggara Selatan Utara Timur Sabtu Kliwon Timur Utara Timur Timur Laut Tengah Barat Laut Timur Sabtu Legi Timur Utara Timur Timur Laut Timur Barat Laut Timur Minggu Kliwon Timur Utara Timur Selatan Tengah Selatan Timur Ruwah Selasa Pon Selatan Timur Barat Barat Barat Timur – Rabu Pon Selatan Timur Barat Barat Daya Barat Tenggara – Kamis Legi Selatan Timur Barat Tenggara Timur Utara – Kamis Pahing Selatan Timur Barat Tenggara Selatan Utara Sabtu Kliwon Selatan Timur Barat Timur Laut Tengah Barat Laut – Sabtu Legi Selatan Timur Barat Timur Laut Timur Barat Laut – Minggu Kliwon Selatan Timur Barat Selatan Tengah Selatan – Pasa Selasa Pon Barat Selatan Barat Barat Barat Timur Barat Rabu Pon Barat Selatan Barat Barat Daya Barat Tenggara Barat Kamis Legi Barat Selatan Barat Tenggara Timur Utara Barat Kamis Pahing Barat Selatan Barat Tenggara Selatan Utara Barat Sabtu Kliwon Barat Selatan Barat Timur Laut Tengah Barat Laut Barat Sabtu Legi Barat Selatan Barat Timur Laut Timur Barat Laut Barat Minggu Kliwon Barat Selatan Barat Selatan Tengah Selatan Barat Besar Selasa Pon Utara Barat Utara Barat Barat Timur Utara Rabu Pon Utara Barat Utara Barat Daya Barat Tenggara Utara Kamis Legi Utara Barat Utara Tenggara Timur Utara Utara Kamis Pahing Utara Barat Utara Tenggara Selatan Utara Utara Sabtu Kliwon Utara Barat Utara Timur Laut Tengah Barat Daya Utara Sabtu Legi Utara Barat Utara Timur Laut Timur Barat Laut Utara Minggu Kliwon Utara Barat Utara Selatan Tengah Selatan Utara Rajab Selasa Pon Selatan Timur Barat Barat Barat Timur – Rabu Pon Selatan Timur Barat Barat Daya Barat Tenggara – Kamis Legi Selatan Timur Barat Tengara Timur Utara – Kamis Pahing Selatan Timur Barat Tenggara Selatan Utara – Satu Kliwon Sekatan Timur Barat Timur Laut Tengah Barat Laut – Sabtu Legi Selatan Timur Barat Timur Laut Timur Barat Laut – Minggu Kliwon Selatan Timur Barat Selatan Tengah Selatan – Masyarakat tradisional Jawa masih mempercayai kehadiran hari baik dan hari kurang baik, bahkan amat buruk bila digunakan untuk pindah tempat tinggal atau boyongan omah. Pindahan tempat tinggal berbeda denga pindahan tempat tinggal untuk sementara atau ‘tetirah’. Keluarga akan pindah rumah disarankan memilih hari baik oleh karena itu harus mengenal ‘petungan Jawa’ atau perhitungan nilai hari dan ‘pasaran’. Nilai hari dan pasaran secara konvensional di tetapkan sebagai berikut: Hari (Days) Neptu Pasaran Neptu Ahad (Sunday) 5 Kliwon 8 Senin (Monday) 4 Legi 5 Selasa (Tuesday) 3 Pahing 9 Rabu (Wednesday) 7 Pon 7 Kamis (Thursday) 8 Wage 4 Jumat (Friday) 6 Sabtu/Setu (Saturday) 9 Pindahan tempat tinggal (boyongan ngalih omah) disarankan untuk melihat neptu hari dan pasaran, miaslnya hari Selasa (3) dan Wage (4); hari Selasa Wage neptunya 3=4=7, pada hari tersebut diharapkan tidak berpindah rumah ke arah barat. Ktetentuan umum boyongan ngalih omah ditetapkan sebagai berikut: Jumlah Neptu (Totally of Neptu) Dilaranag ke arah (forbiddent toward) Jumlah Neptu (Totally of Neptu) Dilaranag ke arah (forbiddent toward) 7 Barat (West) 8 Utara (North) 9 Timur (East) 10 Selatan (South) 11 Timur (East) 12 Barat (West) 13 Utara (North) 14 Selatan (South) 15 Barat (West) 16 Selatan (South) 17 Barat (West) 18 Utara (North)