Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Kesenian Unta-Untanan - Ponorogo, Jawa Timur |
Kesenian Unta-Untanan Dari Kabupaten Ponorogo
Seni tradisional merupakan gabungan dari dua kata yaitu seni dan tradisional. Secara etimologi seni berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu sani atau pemujaan.24 Pengertian tardisional menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah sikap dan cara berfikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara tuun menurun. Kesenian tradisional mempunyai ciri khas yang membedakan antara kesenian tradisional kerakyatan satu dengan lainnya. Dalam kesenian tradisional tersebut memiliki keunikan-keunikan tersendiri dan dengan keunikan-keunikan tersebut menunjukkan ciri dan keistimewaan bagi kesenian tersebut.
Tidak jauh berbeda dengan seni budaya gajah – gajahan, seni budaya onta – ontaan ini juga memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh kesenian lainnya. Jika dilihat dari paradigama penyajiannya, kesenian ini biasa dimainkan dengan cara diarak mengelilingi suatu daerah dalam lingkup kecil, seperti mengelilingi Desa, karena dengan patung gajah dan onta yang di dalamnya ada seseorang yang menjalankan dan ada seorang anak yang menaiki badan dari patung gajah dan onta serta ada penuntun jalan. Pantas saja medan yang lalui hanyalah medan yang mudah dijangkau dan tidak terlalu jauh. Kemudian ada music pengiringnya yang sederhana, seperti bedhug, kecer, kenthongan, kompangan dan kenong.
Kesenian onta-ontaan merupakan kesenian tradisional yang berkembang di kalangan masyarakat yang keberadaannya kesenian tersebut salah satunya Desa Jabung Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo. Bagi masyarakat yang ada di Desa Jabung khususnya ontaontaan dijadikan sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan (dakwah) melalui lirik-lirik lagu dan juga komponen-komponen lainnya.
Seperti yang diungkapkan oleh Sri Indartik bahwa Bagi masyarakat di Desa Gandu Mlarak Ponorogo Gajah-gajahan dijadikan sarana untuk menyebarkan pesan-pesan (dakwah) melalui lirik-lirik lagu. Tentu saja khususnya onta – ontaan proses internalisasi nilai – nilai keislaman lebih efektif melalui lagu – lagu, kostum, pengiring dan komponen – komponen lainnya. Masyarakatpun sangat antusias dengan hadirnya kesenian ini sebagai hiburan dan mengambil makna yang terkandung dalam lagu – lagunya.