Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Legenda Bajul Njayan - Nganjuk, Jawa Timur |
Legenda Bajul Senjayan atau biasa disebut Bajul Njayan dianggap sebagai penjaga aliran Kali Widas oleh masyarakat Senjayan. Legenda Bajul Njayan di Desa Senjayan memiliki berbagai varian kisah yang beragam serta masih dipercaya oleh masyarakat Desa Senjayan.
Bajul Senjayan dikenal sebagai tokoh yang suka memberi barang-barang kepada manusia, seperti misalnya material bangunan, makanan, mebel, dan hasil panen. Barang-barang yang telah dibayar tersebut kemudian dikirimkan ke manusia. Tidak sedikit barang yang ditolak dikirimkan ke Desa Senjayan, namun ketika dicari nama pembeli tidak ada meskipun beralamat di wilayah Desa Senjayan. Hingga akhirnya masyarakat Desa Senjayan menyadari bahwa hal tersebut adalah ulah dari Bajul Njayan yang kerap memborong dan mengirimkan barang ke manusia.
Terdapat dua versi tentang asal mula legenda ini ada, yaitu versi pertama tentang kekalahan Lurah Desa Senjayan yang melakukan adu kesakten dengan pemilik pondok pesantren yaitu Mbah Sulaiman. Adu kesakten tersebut dipicu atas tuduhan Lurah Senjayan kepada Mbah Sulaiman yang telah mencuri sesuatu milik Lurah Senjayan. Mbah Sulaiman yang merasa tidak mencuri, tidak terima atas tuduhan tersebut, hingga terjadi pertarungan antara kedua orang yang sama-sama memiliki kesaktian. Kekalahan diterima Mbah Sulaiman yang berubah menjadi bajul saat terjatuh di pinggir Kali Widas.
Lurah Desa Senjayan sebagai pemenang pertarungan tersebut memperbolehkan Bajul tetap tinggal di Senjayan namun hanya sebatas di Kali Widas. Bajul yang mengalami kekalahan boleh tinggal dan memiliki keturunan di bantaran Kali Widas namun tidak boleh mengganggu dan harus menjamin keselamatan masyarakat Desa Senjayan.
Hingga saat ini, perjanjian tersebut masih diyakini masyarakat yang tetap beraktivitas di bantaran Kali Widas. Sosok dari Bajul Njayan yang dikenal masyarakat adalah laki-laki setengah baya, namun ada juga yang mengatakan berwujud perempuan yang diyakini sebagai keturunan dari Bajul Njayan. Masyarakat Desa Senjayan sering menyebutnya dengan nama Mbah Bajul, Mbah Hendro, Mbah Joko Slamet, dan terkadang Mbah Sulaiman.
Versi kedua dari legenda tersebut yaitu adanya laki-laki yang berpenampilan berbeda, rupawan dan nyeleneh datang ikut menari di acara Langen Bekso Tayub di Desa Senjayan yang hilang di pinggir Kali Widas ketika diikuti warga. Penayub baru tersebut memiliki penampilan yang berbeda, menggunakan bawahan berupa kain jarik yang dibebet hingga nglengsreh. Ciri lainnya yaitu bagian hidung dari orang baru tersebut tidak memiliki geler (garis tengah antara bawah hidung dan atas mulut) dan tidak terlihat kencetnya (keting) meskipun saat melangkah.
Keanehan penayub baru ini tidak terlepas dari pandangan pemilik Langen Bekso Tayub yang akhirnya memerintahkan warga Desa Senjayan mengikuti kepergian penayub baru tersebut saat tayuban selesai. Penayub tersebut bergerak menjauhi para penayub yang berada di atas dan semakin mendekati bibir Kali Widas. Warga kemudian melihat penayub tersebut menghilang dan diyakini berubah menjadi seekor buaya. Hilangnya penayub baru di pinggiran Kali Widas membuat warga Desa Senjayan heran tentang perginya penayub baru di sekitar pohon bambu yang lebat. Akhirnya warga meyakini bahwa penayub tersebut berubah menjadi buaya dan kumpulan pohon bambu adalah rumahnya yang bersifat angker.
Masyarakat Desa Senjayan meyakini sosok tersebut sebagai salah satu penjaga Desa yang disebut bahurekso karena menempati sebuah tempat tertentu yakni tingkungan Kali Widas. Masyarakat percaya bahwa kejadian aneh yang terjadi di situ adalah ulah dari Bajul Njayan, sehingga melarang warga desa lain untuk beraktivitas dan menghindari kejadian yang tidak diinginkan.