Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Labuhan Tulak Bilahi - Madiun, Jawa Timur |
Upacara adat Labuhan Tulak Bilahi adalah suatu upacara adat yang diselenggarakan setiap tahun oleh masyarakat Desa Krebet, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur. Upacara tersebut diselenggarakan guna untuk melestarikan budaya leluhur guna mendatangkan hujan dan juga peringatan untuk mengawali musim tanam serta untuk menolak bala atau bencana yang akan terjadi di Desa Krebet. Upacara tersebut telah berlangsung sejak pemerintahan Palang I (R. Aj Tirtowijoyo) pada tahun 1875 dan berlangsung hingga sekarang.
Nama Desa Krebet tidak lepas dari perjalanan Mas Karebet (Joko Tingkir) yang diusir dari kerajaan Demak Bintoro pada masa pemerintahan Sultan Trenggono tahun 1521-1546. Karena malu untuk kembali ke desa maka Mas Karebet kemudian mengembara ke Gunung Lawu disana ia bertemu dengan Ki Jabaleka dan kemudian melanjutkan perjalanannya ke Gunung Kendheng bagian selatan. Dalam perjalanannya Mas Karebet singgah disuatu tempat
dan beristirahat di bawah pohon yang sangat rindang. Pohon tersebut kemudian diberi nama pohon Krebet. Ditempat tersebut Mas Karebet kemudian membuat pesanggrahan yang digunakan untuk sholat. Pesanggraha tersebut dibangun tepat diperempatan jalan di awah pohon rindang tadi. Setelah Mas Karebet pergi tempat tersebut oleh masyarakat kemudian diberi nama Desa Krebet. Pada saat istirahat ditempat ersebut Mas Karebet memerintahkan kepada sahabatnya yaitu Ki Manca, Ki Wila, dan Ki Wuragil untuk mencari seekor kidang. Setelah kidang berhasil ditangkap kemudian disembelih dan dimasak ditempat tersebut. Bagian kepala, kaki dan ekornya kidang ditanam disekitar perempatan kanan jalan dan kiri jalan dari pesanggrahan. Pesanggrahan tersebut kemudian diberi nama Gardu Gawang.
Rangkaian acara dalam upacara adat Labuhan Tulak Bilahi antara lain:
1. Menyembelih kambing kendit yaitu kambing yang perutnya berwarna putih melingkar. Penyembelihan kambing kendit dilakukan di depan gardu gawang. Bagian kepala, kaki dan ekor kambing kemudian ditanam atau dikuburkan di gawangan yaitu tempat diadakannya selamatan. Sedangkan untuk daging kambingnya kemudian dimasak dan setelah matang dibungkus kecil-kecil untuk digunakan dalam selamatan
2. Shalat tulak balak/istiqo’ secara berjamaah di depan gardu dan dimani oleh Kyai masjid Baitul Hikmah Desa Krebet. Sebelum dilakukan shalat terlebuh dahulu melakukan adzan. Adzan tersebut dilakukan oleh empat orang yang masing-masing menghadap ke arah yang berbeda yaitu menghadap ke arah Timur, Barat, selatan dan Utara.
3. Selamatan, selamata dilakukan di jalan gardu dengan membagikan olahan daging kambing kendit yang telah dimasak sebelumnya dan telah dibungkus kecil-kecil.
4. Kucar-kucur dengan menggunakan dawet. Sebagain dawet tersebut dilempar ke udara sebagai tanda air hujan tuurn dan sebagian lagi dibagikan kepada masyarakat setempat yang hadir.
5. Pagelaran pentas seni wayang krucil/thengul sehari semalam.