Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Bedhaya Endhol-Endhol - Surakarta, Jawa Tengah |
Tari-tarian bedhaya maupun srimpi merupakan salah satu kekayaan yang dimiliki oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Tarian tersebut lahir dari sebuah induk tari yaitu tari Bedhaya Ketawang. Bedhaya adalah tari klasik yang lahir dengan filosofi tinggi. Tarian bedhaya diciptakan oleh para Raja Mataram. Tari bedhaya ditarikan oleh sembilan penari perempuan dan ditampilkan di dalam lingkup keraton. Tari bedhaya-bedhaya yang lahir kemudian merupakan bentuk tari yang berkiblat pada tari Bedhaya Ketawang. Tari bedhaya tersebut memiliki makna simbolis kebatinan manusia dengan ajaran-ajaran nilai-nilai kehidupan yang baik untuk kembali kepada-Nya.
Menurut GKR. Wandasari, Keraton Kasunanan Surakarta memiliki 12 tari bedhaya selain Bedhaya Ketawang. Dua belas tari bedhaya tersebut antara lain Bedhaya Pangkur, Bedhaya Sinom, Bedhaya Sukoharjo, Bedhaya Manguharjo, Bedhaya Gandrung Manis, Bedhaya Durodasih, Bedhaya Ela-Ela, Bedhaya Tejanata, Bedhaya Kabor, Bedhaya Miyanggong, Bedhaya Tolu dan Bedhaya Endhol-Endhol. Tari bedhaya-bedhaya tersebut lahir pada masa pemerintahan Paku Buwono II hingga Paku Buwono XI. Hingga saat ini beberapa tari bedhaya yang masih sering ditampilkan yaitu Bedhaya Sukoharjo, Bedhaya Pangkur, Bedhaya Durodasih dan Bedhaya Ela-Ela. Sementara bedhaya-bedhaya yang lain sudah tidak pernah disajikan dalam acara-acara di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat termasuk diantaranya Bedhaya Endhol-Endhol.
Bedhaya Endhol-Endhol adalah tari bedhaya yang diciptakan oleh Paku Buwono X khusus untuk putri-putrinya yang masih kanak-kanak. Karena ditarikan oleh anak-anak maka bedhaya Endhol-Endhol diciptakan dengan gerakan-gerakan yang sederhana dan menghadirkan karakter bocah dengan sifat keluguannya. Tari Bedhaya Endhol-Endhol lahir sekitar tahun 1893-1939 pada saat Paku Buwono X bertahta. Tari Bedhaya Endhol-Endhol yang ditarikan oleh putri raja yang masih berusia anak-anak hingga remaja ini ditampilkan untuk menyambut tamu yang datang ke Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Tari Bedhaya Endhol-Endhol mempunyai kekhususan bila dibandingkan dengan tari bedhaya-bedhaya yang lain. Bedhaya yang lain pada umumnya ditarikan oleh abdi dalem bedhaya, namun tari Bedhaya Endhol-Endhol ditarikan oleh para putri raja. Bedhaya yang lain ditarikan oleh gadis yang sudah dewasa sedangkan tari Bedhaya Endhol-Endhol ditarikan oleh penari anak-anak yang belum pernah mengalami datang bulan. Tari Bedhaya Endhol-Endhol di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sendiri sering dipentaskan pada saat Paku Buwono X masih bertahta, namun setelah beliau wafat kemudian mengalami kemerosotan hingga jarang bahkan tidak pernah ditampilkan lagi. GKR. Wandansari kemudian melakukan rekonstruksi terhadap tari Bedhaya Endhol-Endhol sebagai tindakan untuk menjaga dan melestarikan esksistensi tari Bedhaya Endhol-Endhol di tengah perkembangan zaman dengan tetap tidak meninggalkan kaedah-kaedah bedhaya yang ada di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.