Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Macapat Gadhon - Surakarta, Jawa Tengah |
Di tengah gempuran arus zaman yang semakin modern, masih terdapat segelintir masyarakat yang masih peduli dan mencintai budaya lokal. Salah satunya adalah Dr. Sunyoto, S.Kar, M.Hum yang merupakan dosen prodi karawitan ISI Surakarta yang juga merupakan salah satu maestro karawitan dari Kabupaten Karanganyar. Dr. Sunyoto, S.Kar, M.Hum sekaligus juga sebagai tokoh penggagas berdirinya Paguyuban Pariwara (Paguyuban Nguri-uri Budaya Jawa lan Olah Swara) yang berperan dalam pelestarian budaya melalui kegiatan macapatan gadhon yang kini mulai ditinggalkan.
Kegiatan macapat ini dilakukan oleh masyarakat Dk. Kebakramat dengan menyajikan tembang macapat yang diiringi dengan instrumen musik yang disebut dengan gadhon. Gadhon adalah seperangkat kecil musik tradisional Jawa yang terdiri dari rebab, kendhang, gender, slenthem, gong kemodhong, gambang, siter dan suling. Macapat adalah puisi tradisi Jawa yang penyajiannya dengan cara dilagukan atau ditembangkan dengan menggunakan titi laras slendro dan pelog. Syair dalam tembang macapat ini berisi berbagai
macam persoalan hidup lengkap dengan pesan moralnya seperti kehidupan sosial masyarakatnya, pendidikan dan religi. Macapat dan seni karawitan memiliki estetika dan fungsi yang berkaitan dengan nilai sosial, moral dan spiritual.
Macapat gadhon yang ada di masyarakat Dk. Kebakramat, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah ini hampir punah karena mulai ditinggalkan oleh generasi muda. Paguyuban Pariwara (Paguyuban Nguri-uri Budaya Jawa lan Olah Swara) menjadi satu-satunya paguyuban yang hingga saat ini masih melestarikan macapat gadhon ini. Mirisnya paguyuban tersebut didominasi oleh generasi tua. Kesenian macapat gadhon baik untuk latihan maupun pementasan biasanya dilakukan pada malam hari. Oleh para anggota paguyuban Pariwara kegiatan macapat gadhon ini menjadi pelepas penat setelah mereka seharian bekerja di sawah maupun menjadi buruh.