Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Adat Saparan Gamping/Upacara Adat Bekakak Gamping - Sleman, DIY
Sejarah: Asal mula upacara adat Saparan Gamping sebagai berikut Kyai dan Nyai Wirosuto adalah abdi dalem penongsong yaitu abdi dalem yang bertugas membawa payung kebesaran raja pada masa Sultan Hamengkubuwono I masih bertahta di Ambarketawang. Ketika keraton pindah ke Yogyakarta, Kyai dan Nyai Wirosuto tetap tinggal di Ambarketawang Gamping. Kyai dan Nyai Wirosuta kemudian menjadi penggali batu kapur. Ketika sedang menambang batu kapur Kyai dan Nyai Wirosuta meninggal tertimpa longsoran Gunung Gamping beserta dengan keluarga dan hewan peliharaannya. Mendengar kabar musibah tersebut, raja memerintahkan melaksanakan upacara untuk mengenang jasa Kyai dan Nyai Wirosuto beserta keluarganya. Upacara inilah yang kemudian dilaksanakan setiap tahun, dan berkembang menjadi tradisi di Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping Sleman, yang kemudian dikenal dengan nama upacara adat Saparan Gamping. Upacara adat Saparan Gamping sering juga disebut upacara bekakak, karena boneka bekakak merupakan sesaji utama dalam upacara adat ini. Bekakak merupakan sepasang boneka tiruan pengantin yang terbuat dari beras ketan, di dalamnya berisi cairan gula Jawa atau juruh. Ketika disembelih, cairan gula Jawa ini menyerupai darah yang mengalir dari tubuh boneka pengantin bekakak. Tempat upacara adat ini di Desa Ambarketawang Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Waktu pelaksanaannya setiap setahun sekali, pada hari Jumat bulan Sapar sekitar tanggal 10-20. Upacara dimulai pada jam 14.00 WIB, dan penyembelihan bekakak dilaksanakan pada jam 16.00WIB Upacara adat Saparan Gamping diawali perarakan dari Balai Desa Ambarketawang, penyembelihan bekakak pertama di Gua Gung, dan penyembelihan bekakak kedua di Gunung Kliling, terakhir pembagian sesaji di bekas Pesanggrahan Ambarketawang. Tujuan upacara adat Saparan Gamping merupakan upacara penghormatan kepada Kyai dan Nyai Wirosuto sekeluarga, yang oleh masyarakat Gamping dianggap sebagai cikal-bakal atau leluhur masyarakat Gamping. Deskripsi: Deskripsi upacara adat Saparan Gamping dan tahap-tahap pelaksanaan upacaranya sebagai berikut: 1. Midodareni bekakak Satu hari sebelum upacara pada hari Kamis malam pukul 20.00 WIB dua joli yang berisi pengantin bekakak disiapkan di Balai Desa Ambarketawang. Disiapkan pula sepasang gendruwo dan wewe. Pada malam itu diadakan acara tirakatan, yang bertujuan mengharapkan kehadiran widadari untuk merestui pengantin bekakak. 2. Kirab pengantin bekakak Kirab dimulai dari Balai Desa Ambarketawang membawa segala peralatan upacara: dua pasang pengantin bekakak, gendruwo dan wewe, dan rangkaian sesaji. Tujuan kirab pertama Gua Gung, tempat penyembelihan pengantin bekakak I, kemudian dilanjutkan ke Gunung Kliling tempat penyembelihan bekakak II. 3. Penyembelihan pengantin Bekakak Diawali dengan doa para ulama, kemudian pengentin bekakak disembelih, dipotong-potong dan dibagikan kepada pengunjung beserta sesajiannnya.Penyembelihan dilaksanakan di dua tempat yaitu di Gua Gung dan Gunung Kliling. 4. Sugengan ageng Diawali pembacaan doa, kemudian pelepasan burung merpati putih, dilanjutkan pembagian sesaji Sugengan Ageng. Upacara ini dilaksanakan di bekas Pesanggrahan Ambarketawang.