Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Cerita Rakyat Sendang Senjaya - Semarang, Jawa Tengah |
Sejarah:
Cerita Rakyat Sendang Senjaya sangat populer di wilayah Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang Propinsi Jawa Tengah. Pada cerita rakyat tersebut terdapat satu tokoh yang sangat yang dikultuskan oleh masyarakat pendukungnya. Tokoh tersebut adalah Arya Sunjaya atau Senjaya yang dikenal masyarakat sebagai tokoh legendaris dan dianggap sakti oleh masyarakat, karena kepandaiannya, keberaniaanya, serta pembela kebenaran. Nama Senjaya pada Sendang Senjaya berasal dari tokoh pewayangan, yaitu Arya Sunjaya atau Senjaya merupakan keturunan dari Arya Widura. Kalah berperang dengan Adipati Karna kemudian moksa menjadi Sendang Senjaya. Sendang Senjaya konon dipercaya sebagai tempat yang memiliki berkah dan sering digunakan orang sebagai tempat untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Di tempat ini dahulu Mas Karebet yang dikenal dengan nama Joko Tingkir yang kemudian menjadi Sultan Hadiwijaya, juga sering melakukan lelaku Kungkum sebelum memutuskan mengabdi menjadi prajurit di Kerajaan Demak.
Deskripsi:
Cerita Rakyat Sendang Senjaya merupakan salah satu cerita rakyat yang dituturkan secara lisan dan masih terpelihara dengan baik di tengah-tengah masyarakat desa Tegalwaton Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang,Jawa Tengah. Cerita Rakyat Sendang Senjaya digolongkan sebagai cerita lisan atau folklore,karena adanya peninggalan berupa sendang dan memilki cerita yang dipercaya keberadaanya.. Cerita tersebut diwariskan secara turun temurun secara lisan dari generasi ke generasi. Pada ceritya Rakyat tersebut terdapat tokoh yang bernama Senjaya.
Nama Senjaya pada Sendang Senjaya berasal dari tokoh pewayangan, yaitu Arya Sunjaya atau Sunjaya merupakan keturunan dari Arya Widura. Kalah berperang dengan Adipati Karna kemudian moksa menjadi Sendang Senjaya. Sendang Senjaya konon dipercaya sebagai tempat yang memiliki berkah dan sering digunakan orang sebagai tempat untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Di sinilah dahulu Mas Karebet yang juga dikenal dengan nama Joko Tingkir yang kemudian menjadi Sultan Hadiwijaya, sering melakukan lelaku Kungkum sebelum memutuskan mengabdi menjadi prajurit di Kerajaan Demak.
Kecamatan Tengaran dulu memang terkenal karena kewingitan hutannya. Tentang kewingitannya, hingga sekarang masih bisa dirasakan apabila berkunjung ke Sendang Senjaya, Desa Tegalwaton Kecamatan Tengaran. Daerah di sekitar itu masih rimbun dengan pohon yang lebat. Konon, di salah satu pohonnya yang besar itulah, Mas Karebet atau Joko Tingkir pernah bertapa untuk menuntut ilmu kanuragan (kebal).
Di sekeliling Sendang Senjaya terdapat enam Sendang dengan ukuran lebih kecil, yaitu Sendang Slamet, Sendang Bandung, Sendang Putri, Sendang Lanang, Sendang Teguh dan Tuk Sewu. Tengaran memang dimanjakan oleh air, karena terletak di ketinggian 450-800 meter di atas permukaan laut itu secara geografis memang kaya air. Air yang dipasok dari lereng Gunung Merbabu, Telomoyo, Gajah Mungkur. Tak kurang dari 65 mata air atau belik (dalam bahasa lokal) tersebar di berbagai penjuru kota. Limpahan air dari mata air mengalir ke sungai-sungai yang menjalar di berbagai kampung dan dusun di Tengaran. Itulah mengapa kampung desa di sekitar Tengaran mempunyai nama yang mengacu pada nama sungai, antara lain Kalitaman, Kalicacing, Kalisombo, Kalioso, Kalibodri, Kaligetek, Kalibening, Kalinangka, dan kali – kali lainnya. Airnya selalu bersih dan jernih. Sendang Senjaya digunakan masyarakat sebagai pemasok utama kebutuhan air bersih di Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang, karena pada jaman Belanda dulu Sendang ini dimanfaatkan sebagai penyuplai kebutuhan air bersih
Sendang Senjaya biasanya ramai di kunjungi orang pada malam Selasa Kliwon dan Jum’at Kliwon, serta malam tanggal 15 dan 16 kalender Jawa. Mereka yang datang untuk lelaku biasanya selalu menyempatkan berendam (kungkum) disalah satu sumber mata air di kawasan Sendang Senjaya. Kegiatan Kungkum termasuk kegiatan batiniah yang bertujuan untuk mendapatkan Ridho dari Tuhan.
Di samping itu, pada saat menjelang bulan Puasa di Sendang Sanjaya dilakukan tradisi Padusan. Tradisi padusan di Sendang Senjaya sudah berlangsung bertahun-tahun. Selain tradisi Kungkum dan Padusan terdapat juga tradisi Upacara Mapag Tanggal merupakan tradisi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT yang dilakukan pada setiap malam satu Sura (penanggalan Jawa).