Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Rokat Gombak/Upacara tradisonal / Rokat - Sampang, Jawa Timur |
Sejarah:
Dalam setiap kota sangat mungkin memiliki sebuah adat istiadat yang berbeda. Masyarakat di Desa Banjar Kedundung Kabupaten Sampang melakukan upacara Rokat Gombak pada masa bercocok tanam untuk mendapatkan hasil yang lebih baik serta berjalan dengan lancar dan tanpa kendala. Tradisi Rokat Gombak diwarisi dari para leluhur masyarakat Sampang dan sampai saat ini masih dilaksanakan oleh penerus di Desa Banjar. Menurut mereka Rokat Gombak sangat membantu dalam melakukan usaha yang akan dilakukan.
Tradisi Rokat Gumbak sudah dikenal oleh masyarakat Desa Banjar sudah sejak ratusan tahun yang lalu, yaitu sekitar tahun 1799. Hal itu diketahui dari pencetusnya, dua orang petapa sakti mandraguna yang bernama Buju’ Toban dan Buju’ Bung Kenek. Asal-usul kedua orang itu tidak satupun masyarakat desa yang mengetahui.
Setelah ditelusuri dari peninggalannya, baik dari bentuk nisan maupun nama Banjar itu sendiri, Buju’ Toban dan Buju’ Bung Kenek berasal dari Kepulauan Kalimantan. Buju’ Toban dan Buju’ Bung Kenek mempunyai kesenangan membuat senjata tajam yang bahan bakunya dari tanah liat. Namun berkat ilmu dan keampuhan manteranya tanah liat itu bisa menjadi senjata yang sesungguhnya, yang kemudian bisa digunakan sebagai alat pembela untuk melindungi dirinya dan masyarakat dari gangguan binatang buas. Bentuk senjata tersebut beraneka ragam, ada yang berbentuk tombak, clurit, pedang, linggis dan pisau bermata dua.
Deskripsi:
Tradisi Rokat Gombak adalah upacara yang dimaksudkan untuk menangkal bahaya. Biasanya dilakukan untuk kesembuhan dari suatu penyakit yang parah, mencegah kemalangan, menghindarkan diri dari bencana, dan untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Kata Gumbak berasal dari bahasa Madura yang berarti suatu perbuatan seseorang yang mengaduk-aduk air kolam (air sungai), sehingga menimbulkan ombak dalam air dan menjadi keruh. Gumbak bertitik tolak pada suatu kegiatan yang bersifat sakral dari pelaksanaan Baceman. Maksudnya pembersihan (penyucian ) 24 buah senjata yang masing-masing memiliki nama sendiri.
Upacara adat Rokat Gumbak memiliki keunikan tersendiri, yaitu masing-masing senjata dibawa oleh orang yang jumlahnya sama dengan jumlah senjata, sambil meliuk-liukkan badan secara bersama-sama diiringi oleh instrumen yang diucapkan oleh lisan (vokal) yang disebut Tabbuwan Colo’.
Untuk melakukan upacara adat Tradisi Rokat Gumbak telah ditentukan bahwa upacara dilaksanakan di suatu tempat khusus, yaitu Buju’ Tenggina, Tana Galis (Tana Paokolan). Setiap pelaksanaan Rokat Gombak, bukan hanya orang yang melakukan upacara tersebut yang merayakannya, tetapi juga para penduduk desa lain ikut serta memeriahkan Upacara Rokat Gombak tersebut.
Perlengkapan Upacara Rokat Gombak adalah Tumpeng dan lauk-pauk, 24 buah senjata, kambing hitam berkaki putih, dupa, bara api, dan penyaring air dari batu, dalam bahasa Maduranya dinamakan Gentong Sarengan. Adapun tahap-tahap dalam upacara Rokat Gumbak antara lain:
1. Tahap Baceman
Acara penyucian dan pembersihan senjata tajam yang berjumlah 24 buah. Pada tahap ini merupakan salah satu tahap yang tidak boleh ditontonkan.
2. Tahap Gundeggan (Menggugah)
Acara memanggil tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh ulama untuk memberitahukan bahwa upacara Rokat Gumbak akan dimulai.
3. Tahap Nyalono’ (Menunduk melewati suatu tempat)
Peserta Rokat berbaris satu persatu, kemudian secara bergantian mereka berjalan melewati antara Tomang dan pohon beringin sambil menunduk.
4. Tahap Korbanan
Acara menyembelih kambing hitam mulus berkaki putih di tanah Galis atau tanah Paokolan.
5. Tahap Tafakhuran
Dilaksanakan dzikir dan do’a oleh semua peserta Rokat yang dipimpin oleh tokoh ulama.
6. Tahap Okolan
Okolan adalah pertarungan antara dua calon ksatria dari masing-masing pedukuhan untuk menunjukkan keterampilan bertarung.
7. Tahap Syukuran
Semua peserta Rokat kembali ke tempat pemberangkatan sebelumnya.