Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaJAKA BODHO JAKA WASIS - SLEMAN, DIY
Jaka Bodho Jaka wasis merupakan jenis seni teater tradisional, semacam ketoprak, akan tetapi seluruh pemain pada saat memasuki panggung dan meninggalkan panggung, dilakukan dengan menari, dengan cerita lakon Jaka Bodho-Jaka Wasis. Jaka Bodho dan Jaka wasis adalah dua orang kakak beradik, anak seorang janda, yang terlahir dalam wujud yang berbeda. Jaka Wasis sebagai kakak, ia berwajah tampan, cakap, dan pintar. Sementara, Jaka Bodho sebagai adik terlahir dalam wujud fisik yang buruk rupa, dan cedal. Namun hubungan persaudaraan keduanya sangat erat, tidak bisa dipisahkan satu sama lain. pada suatu hari Jaka Wasis pergi dari rumah dengan tujuan ingin mencari pekerjaan ke kota. Kepergian Jaka Wasis tanpa memberitahu adiknya, Jaka Bodho. Mengetahui kakaknya menghilang, Jaka Bodo terus mencarinya. Oleh karena pencariannya tidak kunjung bertemu, Jaka Bodho akhirnya bertapaa, untuk memohon petunjuk Dewata. Doa permohonan Jaka Bodo diterima. Jaka Bodo didatangi seeorang dewa dengan memberi boneka banyak kencana (angsa emas), dan teken kayu jaitun. Boneka ’angsa emas’ memiliki kasiyat bisa mendatangkan apa saja yang diinginkan. Adapun teken kayu jaitun merupakan sebuah tongkat kayu yang berisi seorang jin bernama Jim Jaitun. Tersebutlah Jaka Wasis, dalam kepergiannya untjk mencari kerja terlebih dahulu menghampiri kekasihnya yang bernama Endang Mari Kangen, untuk diajak pergi sekalian. Di tengah perjalanan Jaka Wasis bertemu dengan Jaka Bodo. Mereka berdua kemudian saling melepas rindu. Jaka Bodo merasa sangat senang bisa bertemu dengan kakaknya. Ia ingin mengikuti, kemanapun kakaknya pergi. Sementara Endang Mari Kangen, kekasih Jaka Wasis merasa sangat tidak suka kepada Jaka Bodo, karena buruk rupa dan kondisi fisiknya sangat tidak menarik. Ketika Endang Mari Kangen melihat boneka angsa emas milik Jaka Bodo, ia sangat menginginkannya. Ia menyatakan Jaka Bodo boleh ikut bersamanya pergi, asal boneka angsa emasnya diberikan padanya. Jaka Bodo lalu menyerahkan boneka angsa emasnya kepada Randang Mari Kangen. Namun ternyata Endang Mari Kangen menipunya. Setelah Jaka Bodo menyerahkan boneka angsa emasnya, ia tetap tidak diperbolehkan mengikuti kakaknya. Akhirnya Jaka Bodo menyuruh Jin Jaitu menampakkan diri. Begitu meliht wujud Jin Jaitun, Endang Mari Kangen ketakutan. Ia lalu memperbolehkan Jaka Bodo pergi, asal jin Jaitu tidak menampakkan diri lagi. Selama Endang Mari Kangen dan Jaka Bodo ribut-ribut, Jaka Wasis diam-diam pergi meninggalkan mereka berdua. Di Kerajaan Purwacarita, Raja Kusnun memiliki seeorang putri yang sangat cantik. Bernama Putri Arum Manis. Putri Arum Manis dilamar Prabu Klana, namun tidak diberikan. Prabu Klana Marah. Dimasukanlah jin Barakun di tubuh Putri ArumManis, sehingga ia menderita sakit bisu (tuna wicara). Para tabib didatangkan untuk menyembuhkan sakit bisu Putri Arum Manis, namun tidak ada seorang pun berhasil menyembuhkannya. Akhirnya dijadikan sayembara, barang siapa berhasil menyembuhkan penyakit sang putri, jika putri akan dijadikan saudara, jika laki-laki akan dijadikan suaminya. banyak pemuda yang datang untuk memasuki sayembara. Namun tidak ada yang berhasi. Termasuk Jaka Wasis. Akhirnya tibalah Jaka Bodo dan Endang Mari Kangen di Kerajaan Purwacarita. Begitu mengetahui ada sayembara, Jaka Bodo pun mengikuti sayembara tersebut.Jin Jaitu tahu kalau di dalam tubuh Putri Arum Manis bersemayam jin Barakun yang menyebabkan Putri Arum Manis tidak bisa bicara. Jin Jaitu lalu merasuk ke tubuh Putri Arum Manis, untuk menyerang Jin Barakun. Jin Jaitu berhasil mengeluarkan Jin Barakun dari tubuh Putri Arum Manis sehingga ia sembuh dari penyakitnya. Akhirnya Putri Arum Manis diserahkan kepada Jaka Bodo untuk diperistri. Namun Jaka Bodo meminta agar Putri Arum Manis diberikan kepada kakaknya, untuk diperistri Jaka Wasis.