Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Cerita Rakyat Guwa Segala-Gala |
Sejarah: Guwa Segala-Gala terletak di Japon. Guwa Segala-Gala termasuk tempat yang mempunyai kekuatan gaib. Oleh karena itu dikeramatkan orang . Dikatakan bahwa guwa ini gaib sebab kenyataannya dilihat dengan mata tidak tampak. Akan tetapi bagi para ahli kepercayaan bahwa Guwa Segala-Gala ada dan jelas ada.
Deskripsi: Pada saat itu terjadi peperangan antara Demak dan Majapahit. Dalam peperangan ini Raja Majapahit yaitu Prabu Brawijaya kalah dan meninggalkan Majapahit. Prabu Brawijaya sebelum meninggalkan Majapahit menyerahkan payung, tombak dan ikat pinggang kepada Joyodipo (abdi setianya) sambil berpesan bahwa dikelak kemudian hari kalau ada orang yang dapat melihat payung, tombak dan ikat pinggang ini, berarti bahwa orang itu merupakan salah satu keturunannya. Kecuali itu Prabu Brawijaya juga mengatakan dimana payung, tombak dan ikat pinggang ini ditemukan, di tempat itu pulalah sebagai negaranya dan ia pula rajanya.
Setelah menerima sabda Prabu Brawijaya itu maka bertapalah Joyodipo dengan menunggu ketiga pusaka tadi yaitu Payung Kyai Tunggul Wulung, Tombak Kyai Tunggul Naga dan Ikat Pinggang Kyai Cindhe Puspita. Kemudian Joyodipo bertemu dengan R. Katong yang berpakaian sebagai Adipati. Pada waktu malam R. Katong bersama Joyodipo pergi ke sebuah tanah lapang. Pada saat R Katong berdiri di sebuah lapang itu dilihatnya payung, tombak dan ikat pinggang. Kemudian R. Katong bertanya kepada Joyodipo: Apakah yang saya lihat itu payung, tombak dan ikat pinggang dan itu semua siapa yang memilikinya?. Pertanyaan itu dijawab Joyodipo bahwa apa yang dilihat itu betul-betul payung, tombak, dan ikat pinggang.
Selanjutnya Joyodipo mempersilahkan R. Katong untuk bersembah sujud kepada ketiga pusaka itu. Dikatakan pula bahwa ketiga pusaka itu adalah milik Prabu Brawijaya, ayahandanya sendiri. Oleh karena R. Katong dapat melihat ketiga pusaka itu berarti apa yang menjadi cita-citanya dapat terkabul.
Kemudian Joyodipo mempersilahkan agar R. Katong mencabut ketiga pusaka itu dari tanah. Bersamaan dengan dicabutnya ketiga pusaka itu terdengarlah suara gaib yang menggelegar dan seketika itu pula tanah dimana ditancapkan pusaka itu membekas lubang yang makin lama makin melebar menyerupai guwa. Oleh Joyodipo guwa gaib itu diberi nama Guwa Segala-Gala.