Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaSaparan Tlogoguwo - Purworejo, Jawa Tengah
Upacara adat Saparan, merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat Tlogoguwo, Kaligesing yang sampai saat ini masih dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Tradisisi saparan ini sudah dijalankan oleh masyarakat secaraturun temurun. Tradisi saparan ini dilaksanakan setiap bulan sapar (kalender Jawa), yaitu pada hari kemis kliwon. Hal itu sesuai dengan namanya, yaitu saparan yang berasal dari kata sapar ’bulan sapar’ sehingga dapat diartikan sebagai upacara adat yang dilaksanakan setiap bulan sapar. Upacara saparan ini sebenarnya hampir sama dengan upacara merti dusun, yaitu upacara yang bertujuan untuk memohon keselamatan kepada Tuhan. Di samping itu sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa karena hasil pertanian dan peternakan masyarakat berhasil dengan baik. Dalam kesempatan tersebut juga dipamerkan hasil ternak khususnya kambing etawa ras Kaligesing. Masyarakat Tlogoguwo adalah masyarakat agraris yang menggantungkan hidupnya dari pertanian dan peternakan. Upacara ini ditujukan untuk memohon keselamatan kepada Yang Maha Kuasa panen di sawah atau ladang berhasil dengan baik. Di samping itu juga dari hasil peternakan Pasa dasarnya kegiatan upacara sadranan di Tlogoguwo, Kaligesing terdiri dari dua kegiatan utama yakni: 1. Upacara Baritan yang dilaksanakan pada pagi hari 2. Pergelaran wayang kulit pada waktu setelah waktu Dhuhur. Upacara Baritan dilaksanakan pada pagi hari, yaitu pada pukul 09.00 WIB, yaitu setelah warga selesai ngarit (merumput) bagi ternak-ternaknya. Adapun wujud upacara adalah semua ternak dan hasil pertanian masyarakat dan dikumpulkan pada sebuah lapangan (biasanya di halaman rumah Kadus), yang kemudian didoakan secara bersama-sama. Sesaji yang digunakan adalah berupa kembang dan air yang ditaruh dalam bokor. Selain itu terdapat juga Ambengan, dan kupat luwar. Pada saat ini, semua sesaji itu masih dilaksanakan, tetap mengalami modifikasi dalam hal doa yang dilaksanakan. Doa yang dilafalkan yaitu pada saat ini berupa tahlil, yang kemudian dilanjutkan dengan pengajian yang dipimpin oleh kaum setempat. Setelah upacara selesai, maka acara dilanjutkan dengan makan bersama-sama. Keunikan pada upacara baritan ini adalah, setelah upacara selesai, maka air kembang yang telah didoakan tadi diperebutkan oleh warga, karena diyakini air kembang itu mempunyai tuah. Air kembang itu kemudian oleh warga diusapkan pada ternak-ternak, dan hasil pertanian mereka yang diyakini seteleh disapi dengan air kembang tadi maka akan menjadi berkah, yaitu ternak dan hasil tani itu akan menjadi laku/mberkahi. Wayang kulit yang dipentaskan itu biasanya mengambil lakon Sri Mulih (Dewi Sri) yang memiliki makna sebagai Dewi Kesuburan. Oleh karena pergelaran wayang menjadi salah satu tahapan dalam upacara Saparan di Tlogoguwo, maka ada kriteria tertentu dabi seorang dalang yang boleh tampil dalam acara itu (khusus untuk pergelaran wayang yang dilakukan pada siang hari) Dalang wayang inipun adalah dalang yang dianggap sepuh, yang diyakini memiliki kemampuan lebih. Peranan dalang dalam masyarakat dikategorikan sebagai sesepuh atau tokoh yang dihormati. Salah satu dalang yang diangga sesepuh di Tlogoguwo adalah Ki Cipto Sudiro, dari Dusun Pagertengah, Tlogoguwo, Kaligesing.