Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Dungkrek |
Sejarah:
Desa Mejayan merupakan desa yang memiliki tradisi upacara adat/budaya adat yaitu "bersih dusun". Adapunh tujuan dari adat tersebut adalah untuk tolak bala mengusir pagebluk yang dilakukan pada setiap hari Jumat Pahing di bulan Sura setiap tahunnya. Upacara adat ini adalah wujud pelestarian budaya peninggalan pendahulu (Eyang KRT. Prawirodipuro II).
Masyarakat Dusun Mejayan tujuan mengadakan upacara tersebut, tidak lain adalah melestarikan seni budaya tradisi dengan bersyukur, yaitu mohon pertolongan pada sang pencipta agar hidupnya tentram lahir maupun batin. Selain itu mempererat rasa kekeluargaan dan gotong royong sesama anggota warga sehingga merasa handarbeni dusunnya dan penolak balak segala kemungkinan negatif yang terjadi.
Deskripsi:
Upacara Meron dilakukan masyarakat Sukolilo setiap tanggal 13 Rabiulawal tahun Hijriyah. Perayaan Meron terkait erat dengan keberadaan gunungan. Gunungan terbuat dari beberapa jenis makanan yang terbuat dari beras ketan yang disusun tiga tingkatan seperti gunung. Makanan tersebut antara lain: Cucur, once dan ampyang. Prosesi Meron diawali dengan arak-arakan warga yang membawa 13 gunungan menuju halaman Masjid Baitul Yaqin, Desa Sukolilo. Sebelum diarak, para perangkat desa, ketua panitia penyelanggara telah mempersiapkan gunungan sejak satu bulan yang lalu. Membuat makanan harus penuh kesabaran. Sebelum berbentuk tiga jenis makanan, beras ketan diolah terlebih dahulu. Setelah melalui proses pemasakan, makanan tersebut dijemur hingga mengering. Waktu penjemuran + 7 hari (1 Minggu). Gunungan dibuat oleh perangkat desa dengan dibantu tetangga sekitarnya. Beras ketan yang digunakan dalam satu gunungan 670 kg-1 kwintal. Gunungan berdiameter + 2 m dan tingginya 5 meter. Semua perangkat desa membuat gunungan karena ada 13 perangkat desa di Sukolilo maka ada 13 gunungan.