Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Tenun Purbalingga |
Sejarah:
- Ni Katimah atau Ni Kartomo yang usianya 75 th adalah satu-satunya penenun yang masih setia dengan ketrampilannya menenun. Ketrampilannya menenun warisan dari ibunya Ni Santamanggala yang dikenal sebagai penenun handal dari Mrebet. Dahulu semua anak perempuan di Desa Onge harus bisa menenun, mereka malu kalau tidak bisa menenun.
- Ia belajar menenun ketika masih sekolah rakyat kelas III ia keluar sekolah untuk menenun membantu orang tua.
- Hingga akhir tahun 1970-an tenun khas Purbalingga dari Desa Onge sangat terkenal. Pada masa itu yaitu masa keemasan tenunan Desa Onge orang -orang sampai antri membeli kain tenun. Orang sudah memberikan uang muka mesthi kainnya masih ditenun.
- Sejak 1980-an pelan-pelan kegiatan menenun mulai ditinggalkan warga Desa Onge termasuk semua wilayah Mrebet penggemar tenun sudah beralih ke sandang modern, tenun dianggap kain yang ketinggalan zaman.
- Tahun 2000 hanya tinggal dua penenun yang masih aktif di Onge. Tetapi belakangan hanya tinggal Ni Katimah sampai sekarang.
- Anaknya tujuh orang tidak ada yang mau melanjutkan sebagai penenun. Ni Katimah pernah mengajak para remaja puteri di desanya untuk belajar menenun, tetapi mereka tidak tertarik.
Deskripsi:
Tenun khas Purbalingga berasal dari Desa Onge, Kecamatan Mrebet. Kain tenun tersebut dahulu digunakan untuk baju dan celana untuk pencari nira kelapa . Tenun dipilih karena kainnya tebal dan awet dapat melindungi gesekan antara kulit dan batang pohon kelapa.
Kain tenun pada waktu dulu juga digunakan dalam ritual siraman upacara pernikahan. Kegiatan menenun dilakukan setelah selesai pekerjaan di rumah dan di sawah, biasanya setelah dzuhur.
Sekarang ini bahan untuk menenun yaitu benangnya harus memesan dahulu ke pabrik di Purbalingga sebulan sebelumnya. Satu kain tenun prosesnya selesai dalam 10 hari. Satu lembar kain tenun dijual dengan harga Rp 70.000-Rp85.000.