Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | KESENIAN LENGGER - Jember, Jawa Timur |
Kesenian lengger muncul dalam tradisi perkebunan, terutama perkebunan kopi. Sebelum petik kopi awal, atau sebelum memanen kopi, pihak perkebunan juga pemilik kebun selalu menanggap lengger. Itu sebagai bentuk syukur dan untuk kegembiraan. Budaya masyarakat perkebunan kopi antara lain di tunjukkan dengan mempertahankan kesenian. Kesenian ini menjadi sakral yang penuh dengan mitos-mitos. Mitos yang berkembang di masyarakat adalah dimana keinginan seseorang pasti tercapai apabila memiliki nazar untuk mengadakan hiburan tersebut di kemudian hari ketika keinginannya sudah tercapai. Adapun kegiatan yang biasa menampilkan tarian tersebut adalah sebelum dan setelah pemetikan kopi, membangun rumah, kelahiran anak dan lain-lain. Bentuk kesenian yang dipertahankan untuk di wilayah Jember (perkebunan Gunung Pasang) adalah Tari Lengger .
Tari Lengger di Jember sebenarnya sudah muncul sejak ratusan tahun lalu. Bahkan, Tokoh Jumai yang saat ini sebagai penerus tarian Lengger ini merupakan keturunan ketujuh dari penemu tari tersebut, yang diketahuinya bernama Yaimo atau juga dikenal dengan nama Janimin. Lengger merupakan tarian yang sangat sakral. Bahkan setiap akan menampilkan tariannya tersebut, mereka harus menyediakan sesajen untuk roh leluhurnya. Sebagian masyarakat meyakini bahwa lengger mampu mewujudkan setiap keinginan dari para pengundangnya. Dahulu Orang yang memiliki hajat, pasti mengundang Lengger. Seperti ingin mewujudkan cita-cita anaknya, atau ingin kebun kopinya berhasil dalam panennya, dan setelah sukses mereka kembali mengundang tari Lengger, sebagai membayar nazar yang telah dijanjikan.
Ada informasi atau keterangan terkait sejarah periode perkembangan lengger Jember yang perlu dicrosscek dengan sumber lain. Menurut informasi, ada tiga periode perkembangan kesenian lengger di Kabupaten Jember: periode lelawangan Pak Lesek, periode lengger Pak Lesek, periode lengger Pak Djazuli. Pada tahun 1930, Pak Lesek mendirikan grup kesenian yang dinamakan seni lelawangan dengan alat musik pengiring terdiri dari kendang, saron, gong, dan kenong. Seniman lelawangan terdiri dari pemusik dan penyanyi yang berjumlah 6 orang. Bentuk penyajian dalam pentas lelawangan sangat sederhana hanya menyanyi sambil menari sesuai dengan iringan musik. Lagu hanya berdasarkan kesepakatan antara pemusik dan penyanyi. Pada tahun 1960 ada beberapa tandak atau tayub yang masuk menjadi anggota kesenian lelawangan yaitu: Misnaya, Minah, Sumiati, dan Rukmiati. Masuknya beberapa tandak tersebut berdampak pada perkembangan musik dan tari seni lelawangan. Cara penyajian berupa tandak menyanyikan lagu sambil menari sesuai dengan permintaan penonton dan penonton bisa ikut menari bersama dalam pentas dengan memberi imbalan uang sesuai kemampuannya. Kesenian berubah nama menjadi lengger. Lengger dipentaskan dalam acara selamatan kelahiran anak, khitanan, perkawinan dan upacara desa. Pada tahun 1974, Djazuli seorang seniman ludruk dari Bondowoso mengembangkan kesenian lengger agar tidak punah. Djazuli merekrut beberapa seniman ludruk untuk bergabung dalam kesenian lengger. Bentuk penyajian mengalami perubahan yaitu pentas kecil dan pentas besar. Pentas kecil seperti ketika masih bernama lengger Lesek. Bentuk penyajian pentas besar adalah pentas yang diawali dengan tari lengger dan dilanjutkan alur cerita yang bentuk penyajiannya sama dengan pentas ludruk.