Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Tradisional Ceprotan - Donorojo, Kab. Pacitan, Jawa Timur
Sejarah: Upacara Ceprotan dilaksanakan di Dusun Krajan Lor dan Krajan Kidul, Desa Sekar, Kecamatan Donorejo, Kabupaten Pacitan. Ada beberapa pendapat mengenai asal nama upacara tradisional Ceprotan. Dikatakan ceprotan berasal dari kata ceprot dan tambahan an. Ceprot adalah kata dalam bahasa Jawa yang mengandung arti memancar dengan deras seakan-akan disemprotkan. Ada pula yang mengatakan bahwa nama ceprotan diambil dari bunyi ceprot ketika acara puncak dilaksanakan yaitu ketika embut-embutan dilempar hingga embut-embutan pecah. Disamping kedua pendapat di atas, dikatakan bahwa istilah ceprotan diambil dari kejadian pada waktu Dewi Sekartaji minum air kelapa muda dan menumpahkan sisa air kelapa muda ke tanah sehingga air memancar dengan keras. Upacara tradisional Ceprotan merupakan tradisi turun-temurun dalam kehidupan warga Dusun Krajan Lor dan Krajan Kidul, Desa Sekar. Adapun maksud dan tujuan diselenggarakannya upacara Ceprotan adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat yang telah dilimpahkan dalam kehidupan mereka, yang semua itu tidak akan terlepas dari jerih payah Kyai Godheg selaku pendiri Desa Sekar. Bagi masyarakat Dusun Krajan Lor dan Krajan Kidul upacara tradisional Ceprotan merupakan upacara sakral, dengan melaksanakan upacara ini diharapkan kehidupan menjadi lebih tentram, jauh dari segala gangguan, sehingga menumbuhkan semangat hidup yang lebih optimal. Oleh karena itu dengan kesadaran dan keikhlasan mereka mempersiapkan penyelenggaraan upacara tradisonal Ceprotan dengan sebaik-baiknya. Deskripsi: Upacara Ceprotan dilaksanakan setahun sekali yaitu pada bulan Longkang, hari Senin Kliwon atau Minggu Kliwon. Puncak acara dilaksanakan pukul 18.00 wib, saat matahari terbenam. Ada beberapa rangkaian acara yang mendahului puncak acara. Demikian pula setelah pucak acara selesai dilanjutkan dengan acara pergelaran wayang kulit. Jalannya upacara secara garis besar sebagai berikut: Pagi hari dimulai acara bersih desa. Para warga Desa Sekar membersihkan sumber air dan sekeliling rumah masing-masing. Selesai acara bersih desa di lingkungan masing-masing diteruskan membersihkan halaman rumah kepala desa yang akan digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara. Kurang lebih pukul 10.00 para bapak dan pemuda berdatangan ke rumah kepala desa dengan membawa seekor ayam yang telah dicabuti bulunya. Sebungkus bumbu yang akan digunakan untuk memasak sayur dan seikat kayu bakar. Kurang lebih pukul 12.00 para ibu berdatangan ke rumah kepala desa dengan membawa bakul berisi nasi, jadah, krecek, dan pisang. Kemudian ayam, nasi, jadah dan sebagainya dibagi-bagi sehingga masing-masing mendapat seikat daging ayam, nasi, krecek, jadah, pisang dan buah. Dibagian belakang rumah kepala desa juru kunci menyiapkan sesaji berupa panjang ilang, tampah, pecelan, entek-entek, benceng, pisang, klobot, sayur asem, nasi ketan hitam, kemenyan dan bunga-bungaan. Pada pukul 14.00 rangkaian sesaji diletakkan di senthong tengah rumah kepala desa oleh juru kunci. Setelah itu dimulailah acara selamatan yang dipimpin oleh modin.Selesai selamatan masing-masing warga mengmbil bagiannya untuk dibawa pulang. Sesampai di rumah bawaan disimpan dan segera kembali ke halaman rumah kepala desa untuk melaksanakan puncak acara. Selesai pukul 17.30 dengan acara arak-arakan sesaji dan embut-embutan di bawa dari rumah kepala desa ke arena (tempat) lempar-melempar embut-embutan yang terletak di halaman depan rumah kepala desa. Setelah di arena para pelempar embut-embutan bersiap-siap. Para pelempar yang terdiri para pemuda dan banyak dibagi   menjadi dua kelompok. Satu kelompok berdiri di samping kiri arena (lapangan) dan kelompok lainnya berdiri di samping kanan arena. Mereka kadang lebih 50 orang. Embut-embutan digendong dengan keranjang di atas dada masing-masing. Demikian pula sesaji dan panggang ayam  telah dipersiapkan di tengah lapangan. Anehnya meskipun peserta dan sesaji siap, namun tidak ada seorang pun yang masuk lapangan mengambil panggang ayam. Konon yang menggerakkan seseorang mengambil panggang ayam bukanlah seseorang melainkan kekuatan gaib. Mereka yang mengambil panggang ayam tidak merencanakannya sebelumnya. Saat keadaan remang-remang tiba-tiba masuklah dua orang pemuda mengambil panggang ayam yang terletak di tengah arena. Tidak ayal lagi melayanglah embut-embatun ke tubuh pengambil panggang ayam. Berhubung arena dikelilingi pasukan dan para pelempar embut-embutan maka ramailah suasana. Pengambil panggang ayam berlari kesana-kemari mencoba mencari jalan keluar. Demikian pula embut-embutan tidak putus-putusnya dilemparkan. Namun akhirnya pengambil panggang ayam dapat keluar dari arena, sehingga lemparan-lemparan embut-embutan berlanjut tanpa sasaran. Setelah embut-embutan habis, maka berakhirlah upacara Ceprotan. Pada malam hari diteruskan dengan pergelaran wayang kulit semalam sentuk.