Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Bedhah Dhunchung - Lumajang, Jawa Timur |
Upacara adat bedhah dhuncung (membuka sumber air) digelar oleh masyarakat Dusun Kamar
Tengah, Kabupaten Lumajang. Upacara ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada
Tuhan Yang Maha Esa atas kembalinya sumber-sumber air pada musim penghujan setelah
kemarau panjang berlalu. Dalam tradisi Jawa air dipandang sebagai tirta amerta (air
kehidupan) yang tidak hanya menyucikan tetapi juga menguatkan, sehingga hubungan antara
manusia dengan air seringkali dimakna sebagai hubungan yang suci.
Air bagi manusia merupakan kebutuhan pokok. Oleh karena itu, ketika kemarau panjang dan
air menjadi langka, banyak warga Dusun Kamar Tengah yang meninggalkan dusunnya untuk
berpindah ke dusun lain yang memiliki persediaan air. Setelah musim penghujan tiba dan
sumber-sumber air menjadi hidup kembali, warga Dusun Kamar Tengah yang pindah tersebut
kembali pulang ke dusunnya kembali. Peristiwa kembalinya sumber-sumber air tersebut
disambut dengan penuh suka cita. Mereka kemudian mengadakan upacara syukuran yang kemudian diberi nama dengan upacara bedhah dhuncung. Upacara bedhah dhuncung
dilaksanakan hari ahad/minggu kliwon malam senin legi pada sore hari menjelang maghrib dan
dipimpin oleh dukun atau sesepuh dusun.
Para peserta upacara bedhah dhuncung terdiri atas:1) dukun atau sesepuh dusun; 2) dua orang
sebagai pengawal; 3) seorang pembawa pecok bakal; 4) seorang pembawa kemenyan; 5)
empat pembawa lincak (tempat nasi ambeng/tumpeng terbuat dari bambu); 6) lima pembawa
obor. Untuk ubarampe (sesaji) yang diperlukan dalam upacara bedhah dhuncung adalah 1)
pecok bakal yang berisi bermacam-macam bumbu-bumbuan untuk ditaruh di sumber air; 2)
bubur panca warna: bubur merah, putih, kuning, hitam, dan hijau; 3) sandhingan yang terdiri
dari sirih ayu, pisang ayu, kelapa gundil dan tali lawe; 4) pethetheng pitik (ayam panggang); 5)
ingkung (ayam bumbu); 6) kemenyan yang dibakar pada waktu pelaksanaan upacara di sumber
air; dan 7) tumpeng sebagai sarana selamatan yang di bawa oleh masyarakat. Ubarampe yang
berwujud sandhingan, pethetheng pitik dan ingkung diletakkan di atas lincak selanjutnya
diantar ke rumah dukun. Peralatan yang diperlukan dalam upacara bedhah dhuncung terdiri
dari lincak, perapen atau padupan ( tempat membakar kemenyan), dan senjata tajam (sabit,
celurit, pedang, dan lain-lain), serta obor.
Pelaksanaan upacara bedhah dhuncung diawali dengan kegiatan janggolan atau kerja bakti
pada pagi harinya takni membersihkan jalan menuju sumber air dan sekitarnya. Pada minggu
kliwon menjelang matahari terbenam masyarakat Dusun Kamar Tengah berkumpul di gandok
dusun dengan membawa tumpeng untuk berkenduri. Dukun kemudian meminta izin kepada
para hadirin dan memberi isyarat kepada petugas bahwa upacara bedhah dhuncung segera
dimulai. Masyarakat yang hadir tetap duduk di gandok, dukun dan petugas upacara melakukan
kegiatan sebagai berikut, dua orang pengawal berjalan mengapit pembawa obor diikuti oleh
pembawa obor dan dukun. Pembawa obor berjalan berdampingan dengan pembawa pecok
bakal yang disusul oleh pembawa lincak yang diapit dua orang pembawa obor.
Setibanya di sumber air, dukun dan semua petugas menata perlengkapan upacara, kemudian
duduk bersila. Pengawal dan pembawa obor tetap berdiri, dukun membakar kemenyan dengan
memberi pengantar dan membaca mantra. Setelah membaca mantra, tangan dukun membuat
gerakan seolah-olah memperbesar jalannya air. Hal serupa juga dilakukan oleh peserta
upacara, kecuali pengawal dan pembawa obor. Setelah upacara selesai, pecok bakal diletakkan
di sumber air, sedangkan bubur panca warna diletakkan di perempatan jalan. Lincak dengan
isinya dibawa ke rumah dukun. Dukun dan peserta upacara lainnya kemudian kembali ke
gandok untuk menemui masyarakat. Setibanya di gandok dusun, dukun memberitahukan
kepada warga bahwa upacara bedhah dhuncung telah selesai dilaksanakan. Sebagai penutup
upacara, diadakan selamatan dengan dipimpin oleh dukun. Pada malam harinya masyarakat
dusun dihibur dengan pertunjukan lengger atau apabila dananya mencukupi, warga menggelar
pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.