Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaRitual Unduh-Unduh
Masyarakat yang tinggal di pedesaan khususnya di Kabupaten Wonosobo masih ada yang menyelenggarakan ritual-ritual yang dianggap sebagai sarana mohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Diantara sejumlah ritual tersebut salah satu diantaranya adalah unduh-unduh. Pada tahun 1960 kegiatan unduh-unduh pernah dihentikan oleh pemerintah sebab dianggap meniru budaya Cina, tetapi beberapa tahun kemudian unduh-unduh mulai dilakukan lagi. Pada saat pelaksanaan unduh-unduh (22 Agustus 2009) para warga Sendangsari pria maupun wanita, anak-anak hingga orang dewasa ikut berpartisipasi. Mereka berkumpul di dekat masjid desa. Sekitar pukul 18.30 rombongan kesenian yang ada di Sendangsari yang terdiri dari lengger, kuda kepang, warokan diberi kesempatan pentas. Sebelum melakukan pawai keliling dengan obor, terlebih dahulu para sesepuh desa mengambil air dari 7 mata air yang ada di Desa Sendangsari yaitu mata air Kaligodang, Siwulu, Sikendil, Sikembang, Gemblangan, Pawon dan Silarut. Semua air yang berasal dari 7 mata air tersebut lalu ditampung dalam sebuah kendi. Makna dari air yang dicampur ini sebagai lambang persatuan tekad, cipta, karsa dengan seluruh warga desa. Air dari kumpulan 7 mata air ini lalu digunakan secara simbolis untuk menyirami tanaman dengan harapan kelak tanaman mereka dapat tumbuh subur. Acara selanjutnya adalah pembacaan sejarah desa Sendangsari. Menurut sejarah, desa tersebut pada awalnya dirintis oleh beberapa tokoh yang terdiri dari Eyang Waridin, Eyang Gathul, Eyang Sayid Imam, Eyang Nursidin, Syeh Rahmat dan masih ada beberapa tokoh lain. Desa Sendangsari mempunyai ciri yaitu sebagai desa yang kental dengan budaya kesenian tetapi juga mementingkan segi religius. Hal ini terbukti bahwa pada saat unduh-unduh dilakukan pula khataman Al quran di Pondok Pesantren Al Barokah, pondok ini terletak di Desa Sendangsari. Kata iunduh-unduh diartikan ngunduh atau memetik hasil perbuatan baik mereka dengan cara mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Selanjutnya semua lampu dipadamkan sebagai ganti penerangan menggunakan obor. Pemadaman ini dilakukan selama pawai berlangsung. Obor api panunggal yaitu obor yang paling depan dinyalakan, kemudian berturut-turut dinyalakan pula obor yang dipegang oleh orang yang berjalan di belakangnya. Pawai obor ini berjalan mengelilingi desa diikuti rombongan kesenian. Pawai obor ini mempunyai maksud sebagai sikap mengusir kegelapan dan kejahatan sehingga terjadi kejernihan pikir, cipta, rasa dan karsa. Unduh-unduh diartikan pula sebagai wahana introspeksi warga atas perbuatan yang dilakukan selama ini. Tradisi unduh-unduh dapat pula sebagai bersih desa atau merti desa. Selesai pawai keliling desa mereka lalu menuju balai desa untuk makan bersama. Mengenai istilah unduh-unduh dapat dikaitkan dengan ungkapan dalam bahasa Jawa: "sapa gawe bakal nganggo, sapa nandur bakal ngundhuh".