Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaPengobatan Tradisional Menggunakan Purwaceng
Usaha jamu tradisional yang dilakukan Bapak Abdul Hamid (58 tahun) di rumahnya yang terletak di kampung Sabuk Alu, Kelurahan Pagerkukuh Sirandu, Kecamatan Wonosobo sudah dimulai sejak tahun 1992 atas prakarsa sendiri. Mula-mula ia memproduksi bubuk jahe, bubuk kunir asem, bubuk kunir asem suruh, kunyit putih, bubuk temu lawak dan bubuk sari wortel. Mulai tahun 1996 Pak Abdul Hamid mengawali usaha purwaceng. Usaha Pak Abdul Hamid mulai mantap setelah pada tahun 2002 Baliho Bogor mengadakan penelitian laboratorium purwaceng, hasil penelitian laboratorium ini baru diketahui pada tahun 2005 yang menyatakan bahwa purwaceng asal Dieng kualitasnya lebih baik dibanding tanaman sejenis asal Korea. Tanaman untuk bahan baku purwaceng tumbuh di dataran tinggi Dieng. Tanaman untuk obat ini sudah dikenal sejak jaman Mataram Hindu tetapi pada waktu itu belum diberi nama purwaceng. Istilah purwaceng baru diberikan sejak tahun 1920 yaitu sejak Kraton Yogyakarta memanfaatkan tanam obat ini. Untuk keperluan obat tradisional purwaceng yang diambil adalah pohon beserta akarnya lalu dicuci bersih. Sesudah itu dijemur hingga kering. Pohon purwaceng yang sudah kering akar dan batangnya akan terpisah dari daunnya. Daun purwaceng inilah yang dimasak hingga menyerupai teh. Cara menggunakannya juga seperti menyeduh teh. Pak Hamid menempuh cara bekerja sama dengan petani purwaceng, caranya bila petani membutuhkan modal untuk menanam purwaceng, ia bersedia meminjami uang. Kelak apabila sudah panen maka petani tersebut uang penjualan dipotong dari pinjamannya. Sebagai pengrajin purwaceng, Pak Hamid tidak dapat memastikan berapa hasil penjualan produksinya setiap hari atau jangka waktu tertentu, hal ini sesuai dengan permintaan pesanan. Kadang-kadang ada pesanan dari Temanggung dan Bali. Setiap bulan rata-rata ia membeli tanaman purwaceng antara 4-5 kwintal, dari jumlah ini setelah dijemur dan tinggal daunnya yang kering menyusut banyak hanya tinggal 10%. Setiap bungkus purwaceng beratnya 7 ons, di dalam bungkus tersebut berisi 25 bungkus kecil harganya Rp 19.000,-. Purwaceng yang akan dikemas lebih dahulu dicampur gula pasir dan ada yang masih ditambah kopi. Pernah ada kemasan yang di dalamnya diberi susu, ternyata campuran susu ini mengakibatkan bahan susunya menjadi rusak sehingga sekarang tidak ada yang dicampuri susu di dalam purwaceng. Ramuan purwaceng dipercaya menambah kekuatan bagi pria. Wanita pun dapat meminum ramuan ini tetapi bagi wanita hamil dilarang minum purwaceng, Bagi orang yang sedang menderita hipertensi juga dilarang minum ramuan ini.