Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaMusik Cengklungan
Jumanto menjelaskan bahwa untuk keperluan membuat tipung ia harus membeli bahan baku dua atau tiga bulan sebelum petani memetik tembakaunya, hal ini dilakukan agar tidak kesulitan mendapat bahan baku. Setelah pengrajin tipung sudah membeli bahan baku, pembuatan tipung baru dilakukan mendekati panen raya tembakau. Menurut Jumanto ia bersama isterinya dalam satu hari dapat menyelesaikan 10 buah tipung ukuran sedang yang yang berkapasitas tembakau 40 kg. Menurut Jumanto bagi pengrajin tipung yang masih belajar dalam 1 hari baru mampu menyelesaikan 2 buah tipung. Satu lonjor bambu ukuran 4-5 meter dibeli dengan harga Rp. 8000,- satu lonjor bambu dapat dijadikan tipung sebanyak 3 buah ukuran sedang. Keranjang yang telah dianyam pada bagian atasnya perlu ditambah pelepah daun pisang yang telah kering, setelah lengkap baru disebut tipung. Harga satu buah tipung ukuran sedang Rp. 10.000. Pada setiap panen tembakau dibutuhkan tipung sekitar 140.000 buah. Hal ini merupakan peluang musiman bagi pengrajin tipung. Musik cengklungan yang semula hanya berupa seni musik dan suara pada perkembangan selanjutnya ditambah dengan gerakan tarian. Tarian ini biasanya dilakukan spontansitas, gerak tari itu menggambarkan suasana masyarakat petani yang hidup dari bercocok tanam. Misalnya ada gerakan tari yang menggambarkan orang sedang mencangkul, panen, menumbuk padi. Pada tahun 1970 di Dusun Krajan terbentuk grup cengklungan “Padha Rukun”, ketuanya pada saat itu adalah Dalmin W.S. Pada perkemabangan selanjutnya kesenian cengklungan kurang diketahui masyarakat luas bahkan ada yang menyatakan hampir punah. Sebenarnya setiap habis panen masyarakat Krajan mengadakan pentas cengklungan. Tahun 2009 Pemerintah Kabupaten Temanggung mengadakan Festival Budaya dengan menggelar beberapa kesenian daerah, salah satu dianataranya adalah cengklungan. Dengan ditampilkannya musik cengklungan dalam Festival Budaya maka cengklungan mulai dikenal oleh masyarakat Temanggung sehingga kesenian ini tidak punah. Anggota cengklungan Padha Rukun saat ini ada 40 orang terdiri dari pria dan wanita, baik tua maupun muda. Orang dewasa kebanyakan ditugaskan menarik alat musik dan tarik suara, sedangkan yang muda melakukan tarian.