Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaMuntreng
Konon ceritanya, ketika daratan Jawa masih dipenuhi hutan belantara, tinggallah seorang duda kaya di sebuah desa dekat hutan. Duda itu ditemani anak semata wayang yang diberi nama Muntreng. Semenjak kecil hingga beranjak dewasa, Muntreng tidak pernah mengetahui wajah ibunya. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, ibu Muntreng adalah seorang yang dermawan dan berparas jelita, sehingga banyak pemuda jatuh hati padanya. Tidak hanya pemuda dari satu desa saja yang menaruh hati padanya, berduyun-duyun pemuda dari desa-desa lain berlomba-lomba memikat hati Ibu Muntreng, namun hampir semuanya kecewa karena tidak diterima pinangannya. Hingga pada suatu hari, seorang pemuda rupawan singgah di desa Ibu Muntreng untuk menawarkan dagangan. Tidak lama berselang pemuda rupawan yang seorang saudagar tersebut sampai di rumah Ibu Muntreng. Seiring berjalannya waktu, timbul benih-benih asmara diantara saudagar rupawan dan Ibu Muntreng. Tidak lama kemudian saudagar tersebut berhasil menyunting si bunga desa yang cantik jelita. Pesta pernikahan berlangsung tujuh hari tujuh malam. Seisi desa bergembira ria, segala jenis hiburan turut meramaikan pesta pernikahan mereka. Setelah lewat sepuluh purnama, lahirlah buah cinta mereka. Tak beda dengan ibunya, bayi perempuan yang baru saja lahir tersebut sangat cantik, bak pinang dibelah dua jika disandingkan dengan ibunya. Tapi sayang seribu kali sayang, takdir rupanya berkata lain, sang ibu meninggal dunia saat Muntreng masih bayi merah. Tak terperi kesedihan yang dirasakan ayahanda Muntreng. Namun meski harus membesarkan Muntreng sendirian, ayahnya menjalani seluruh rutinitas tersebut dengan senang hati. Seringkali Muntreng kecil dinaikkan dokar dijadikan satu dengan dagangan ayahnya. Kehidupan ayah dan anak ini lambat laun semakin sejahtera. Rumah mereka yang dulunya semi permanen telah dipugar menjadi rumah yang cukup mewah pada masa itu, dan tak lupa ayah Muntreng selalu bersedekah pada para tetangga yang membutuhkan. Waktu terus bergulir hingga tak terasa Muntreng kecil telah beranjak dewasa. Pada suatu ketika ayahnya memandangi Muntreng dengan perasaan bahagia sekaligus sedih karena untuk mengurus usahanya ia kerap tidak pulang hingga berhari-hari. Hingga akhirnya ayah Muntreng berniat untuk menikah lagi demi mencarikan teman sekaligus pembimbing bagi Muntreng selama ayahnya pergi berdagang. Awalnya Muntreng terkejut, namun kemudian ia menyerahkan keputusan pada ayahnya, dan demi baiknya semua maka Muntreng setuju. Sepekan kemudian ayah Muntreng memperkenalkan seorang wanita berwajah keras kepada Muntreng sebagai pengganti ibunya. Kehidupan keluarga Muntreng kian semarak sejak kehadiran sang ibu baru. Rumah mereka terlihat semakin bersih dan rapi, juga di pekarangan rumah yang luas tumbuh subur beraneka ragam sayur mayur, membuat senang hati orang yang melihatnya. Namun sayangnya kelemahlembutan hati sang ibu baru tak berlangsung lama. Ibu tiri yang tadinya dikenal baik hati kini dengan serta merta berubah menjadi suka mencaci maki. Hingga Muntreng kini menjadi sering sakit-sakitan karena setiap hari mendapatkan cacian dari ibu tirinya. Tak hanya caci maki, Muntreng juga harus bekerja keras untuk bisa mendapatkan makanan dari ibu tirinya. Setiap hari dari pagi buta hingga tengah hari, segala pekerjaan rumah tangga harus dikerjakan Muntreng. Baru setelah lewat tengah hari Muntreng mendapat jatah sepiring kecil nasi putih dan lauk ala kadarnya. Begitu terus hingga berbulan-bulan, kalaupun terjadi perubahan hanya ketika ayahnya berada di rumah. Untuk mengurangi rasa sedihnya, Muntreng sering mengunjungi makam ibunya. Di pusara ibunya Muntreng mencurahkan segala duka lara yang menderanya. Di makam ibunya Muntreng serasa mendapatkan ketenangan dan semangat untuk kembali menjalani hidup. Pada suatu siang sepulangnya dari makam ibunya, ketika hendak membasuh tangan dan kakinya di sumur rumahnya, Muntreng mendengar ada orang yang memanggilnya. Ternyata pakde-nya Muntreng mengantar sayur yang terbuat dari jamur. Jamurnya diambil dari dalam hutan, langsung dimasak dan sepertinya enak sekali. Begitu mengetahui ada sayur jamur, ibu tiri Muntreng langsung merampasnya dan menikmatinya seorang diri. Keesokan harinya saat Muntreng masih terlelap, ibu tirinya sudah berkacak pinggang di depan kamar sambil berteriak-teriak membangunkan Muntreng. Disuruhnya anak tersebut mencari jamur ke hutan, namun bukan jamur seperti kemarin. Ibu tirinya menghendaki jamur raksasa, tudungnya sepayung agung, batangnya seglugu (batang pohon kelapa) gemantung. Muntreng tidak boleh pulang sebelum mendapatkannya. Hanya dengan berbekal pisau berkarat pemberian ibu tirinya, Muntreng berangkat ke hutan dengan mata mengantuk dan rasa was-was yang mencekam hatinya. Singkat cerita, setelah berjalan hingga hampir sore, dan menemui beraneka macam jamur dari kecil hingga besar, mengatasi segala macam rintangan, akhirnya Muntreng menemukan jamur raksasa seperti keinginan ibu tirinya. Namun jamur raksasa ini bukanlah jamur biasa. Jamur raksasa ini merupakan jelmaan dewa dari kahyangan. Betapa puas hati ibu tirinya mendapatkan jamur yang diidamkannya, dan segera menggelar pesta jamur untuk seisi desa. Hingga suatu saat ibu tiri Muntreng memberi tugas lagi kepada Muntreng untuk mencarikan seekor ular besar, panjang tubuhnya seglugu jambe, matanya seukuran kenong (salah satu alat musik gamelan), dan kepalanya sebesar gong. Kembali Muntreng tidak kuasa menolak tugas berat dari ibu tirinya tersebut. Singkat cerita, setelah Muntreng berjalan hingga menjelang malam dan telah bertemu dengan banyak ular kecil hingga besar, barulah Muntreng bertemu dengan ular yang dimaksud ibu tirinya. Namun seperti yang lalu, ular inipun bukanlah ular biasa. Ular ini jelmaan seorang pangeran, sehingga mampu berkomunikasi dengan Muntreng, dan Muntreng tidak merasa takut lagi. Ular tersebut membawa pulang Muntreng untuk bertemu dengan ibu tirinya. Namun belum sampai ibu tirinya menggelar pesta besar-besaran, sang ular telah terlebih dahulu memangsa ibu tiri Muntreng. Saat Muntreng bersedih karena kehilangan ibu tirinya, sang ular menghiburnya dan berjanji akan selalu menjaga dan menemani Muntreng. Hingga akhirnya pada suatu hari Muntreng mengetahui bahwa ular raksasa tersebut tak lain adalah jelmaan seorang pangeran tampan yang pada akhirnya menjadi suaminya. Mereka hidup bahagia selama-lamanya.