Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Jago-Jagoan |
Tradisi Jago-Jagoan merupakan tradisi dalam pernikahan adat Jawa yang masih berlangsung di masyarakat Sumobito, Jombang. Tradisi Jago-Jagoan sudah ada sejak dahulu di daerah tersebut. Berdasarkan informasi yang diperoleh, tradisi Jago-Jagoan ini merupakan pesan leluhur sehingga masih dilaksanakan hingga kini karena dipandang memiliki makna yang luhur.
Makna luhur yang dimaksud adalah permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar pernikahan yang dilangsungkan dapat membentuk sebuah keluarga yang harmonis, sejahtera, dan bahagia hingga akhir hayat. Hingga kini tradisi tersebut masih berlangsung. Masyarakat dengan kesadarannya sendiri ingin melestarikan tradisi Jago-Jagoan tersebut dengan melaksanakannya di setiap perhelatan pernikahan yang berlangsung di Desa Segodorejo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang.
Tradisi Jago-Jagoan dilakukan oleh pihak pengantin pria. Dalam tradisi ini ditampilkan seorang laki-laki yang berpakaian serba hitam sambil menggendong replika ayam jago di bahu kirinya. Layaknya ia sedang menggendong bayi dengan kain. Di belakangnya, rombongan pengiring pengantin laki-laki mengiringinya. Seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam ini merupakan petugas pembawa replika ayam, sedangkan pengantin pria berada di sampingnya. Mereka berada di barisan terdepan rombongan pengantin laki-laki.
Di bawah dua payung mengembang yang di bagian tepinya dihiasi sejumlah sapu tangan warna-warni, pengantin pria dan petugas berpakaian serba hitam yang menggendong jago-jagoan berjalan menuju kediaman pengantin wanita. Di bagian paruh jago-jagoan itu diikatkan cincin emas yang beratnya menyesuaikan kemampuan pengantin laki-laki. Perhiasan tersebut untuk dipersembahkan pengantin laki-laki kepada pengantin perempuan.
Bagian ekor dari jago-jagoan tersebut lebih menarik lagi. Menjuntai dengan panjang sekitar 1 meter, diselempangkan lima lembar kain batik cap berwarna-warni. Sedangkan di dalam tubuh jago-jagoan tersebut terdapat cok bakal atau sesajian yang terdiri dari setangkup bubur merah dan di atasnya diletakkan telur ayam kampung, juga terdapat seuntai padi dan kembang setaman. Sesajian tersebut merupakan ular-ular, wasiat dari leluhur.