Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTari Angguk
Angguk aalah tarian yang menggambarkan kadaan beberapa tentara Belanda yang sedang baris-berbaris. Ketika prajurit Belanda sedang mengadakan pesta, dalam pesta itu meriah dan ramai banyak orang-orang berdansa ketika itu juga rakyat Indonesia tidak sengaja melihat latihan tentara Belanda. Karena sering melihat dansa prajurit Belanda maka rakyat Indonesia menirukan gerakan-gerakannya. Disamping itu, orang Indonesia berlatih terus menerus sehingga rakyat membuat sebuah karya atau tarian yang dinamakan Angguk.dinamakan Angguk karena gerakan-gerakan tarian sering menggunakan anggukan kepala. Tarian Angguk sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda sampai sekarang ini masih dilestarikan masyarakat Grobogan. Dengan pakaian (costum) seperti tentara Belanda yang sedang berlatih. Costum yang digunakan dalam Angguk antara lain, topi, kipas, baju lengkap dengan atribut-atributnya peluit dan sepatu. Tari Angguk sejak awal merupakan hiburan atau pendukung untuk menyemarakan perhelatan, pernikahan atau nadir (membayar janji). Tari sebagai hiburan yaitu salah satunya adalah tari Angguk. Angguk merupakan tari tradisional kerakyatan yang tumbuh secara turun-temurun dalam lingkungan masyarakat etnis atau berkembang dalam rakyat, untuk itu sering kali disebut Folk Dance. Angguk adalah tarian yang menggambarkan keadaan beberapa tentara Belanda yang sedang berdansa. Dinamakan Angguk karena gerakan-gerakan tariannya sering menggunakan anggukan kepala. Penari Angguk biasa ganjil, jika prajurit 12 maka komandan 1 yang berada didepan prajurit. Paguyuban Angguk yang bernama seni budaya Angguk Sekar Jaya masih dilestarikan di desa Karangrejo Kabupaten Grobogan Jawa Tengah. Costum yang digunakan dalam tari Angguk sama dengan costum tentara Belanda. Antara lain topi, kipas, kaos tangan, kaos kai baju lengkap dengan atributnya, khusus untuk pemimpin dengan tambahan peluit dan tongkat, dan kacamata hitam. Tari Angguk pertama kali dipimpin oleh Bapak Karnadi. Setelah Bapak Karnadi lengser dari kepemimpinannya, kesenian tari Angguk dilanjutkan oleh Bapak Pratekyo sampai tahun 1978, setelah itu selama 10 tahun tari Angguk pernah hampir punah karena tidak adanya pemimpin dan anggota yang mengurus kelompok. Mulai berdiri lagi dan pemimpin ketiga adalah Bapak Sutiyono tahun 1997-2004. Pemimpin keempat adalah Bapak Ali Hidayat dari tahun 2004-sekarang masih berkembang dan dikenal masyarakat.