Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Reog Gondorio - Grobogan Jawa Tengah |
Kesenian Reog Gondorio merupakan ikon tarian tradisonal yang cukup terkenal di kabupaten Grobogan, yang usianya sudah ratusan tahun. Kesenian Reog Gondorio sangat asing di telinga masyarakat, sedang warga masyarakat Grobogan sebagai daerah kelahiran Reog Gondorio banyak yang belum mengetahui apa dan bagaimana bentuk kesenian tersebut, berbeda dengan Reog Ponorogo yang mempunyai ikon Singo Barong raksasa, bahwa Reog Gondorio lebih menonjolkan gerakan akrobatik dari dua orang penari utama. Gondorio berasal dari dua kata dalam Bahasa Jawa, Gondo yang berarti ambu atau digondo dan rio berarti suka cita. Siapa yang digondo umumnya adalah penari anak perempuan. Alat musik pengiringnya adalah bonang, saron, balongan, kendang, gong dan terompet bersautan. Selaras dengan suara irama gendingnya, humor-humor segar dilontarkan oleh pawang cerita, dengan mmengunakan topeng tokoh Joko Lodra. Setelah humor segar selesai dipertontonkan atraksi sesungguhnya dinulai.
Tidak banyak berbeda dengan Reog Ponorogo bahwa Reog Gondorio ini adalah versi lengkapnya menceritakan kisah antara Dewi Sekartaji dengan Panji Asmara Bangun. Reog Gondorio dimainkan pada babak saat kedua tokoh tersebut selesai menikah. Reog Gondorio sendiri menggambarkan keadaan suka cita perayaan pernikahan Dewi Sekartaji dan Panji Asmarabangun.gerakan Reog yang dimainkan oleh penari sangat lincah dan lebih menonjolkan unsur-unsur seni akrobatik. Begitu musiknya dibunyikan, penari laki-laki yang sudah tua dan perempuan mulai melenggak-lenggokan badannya untuk menari. Penari perempuan dengan lincahnya naik ke atas paha penari laki-laki yang sudah tua, paha penari laki-laki terlihat sedikit di tekuk. Maksudnya untuk menopang tuguh gadis yang usianya sekitar 14 tahun. Sekali hentakan tubuh gadis dilontarkan ke belakang hingga memutar di pundaknya dna diangkat melalui selangkangan penari laki-laki. Dua tiga kali gerakan serupa diperagakan kedua pasangan penari beda usia tersebut. Kadang juga diperagakan gerakan ala kalajengking, dimana kedua kaki penari wanita melingkar di perut penari laki-laki yang disebut mamang. Tarian itu dilakukan tidak lain mengharapkan agar penonton memberi saweran berupa uang. Tarian tersebut dipertontonkan sekitar 15 menit lamanya. Menjadi penari Reog Gondorio membutuhkan stamina yang kuat, karena harus mempraktekan gerakan-gerakan aerobik.