Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaJaka Tarub
Makam Ki Ageng Tarub terletak 10 km sebelah timur kota Purwodadi. Sebagai obyek wisata spiritual, makam Ki Ageng Tarub ini sangat ramai dikunjungi oleh para peziarah dengan tujuan mencari berkah agar permohonannya dikabulkan Tuhan Yang Maha Esa. Ki Ageng Tarub sendiri menurut cerita yang berkembang di masyarakat sekitar khususnya atau masyarakat jawa umumnya, diakui pernah memiliki istri seorang bidadari yang keturunannya, akhirnya menjadi orang besar di Jawa salah satu keturunannya adalah Ki Ageng Selo. Dari Kahyangan, Guru Dewa menyuruh para bidadari turun ke bumi karena di kahyangan sedang terjadi banyak peperangan. Setelah turun ke bumi sampailah para bidadari di hutan Saranini seorang punggawa yang bernama joko Sambung taruhan/berjudi bersama teman-temannya para brandal. Ketika sedang taruahn datanglah Joko Madhoh yang mengatakan bahwa mereka punya musuh yang bernama Joko Tarub. Diceritakan bahwa di padepokan para emban dan abdi dalem sedang bersuka cita dengan menari bersama. Ditengah-tengah keramaian tersebut datanglah Joko Tarub yang bermaksud mengajak berburu di hutan. Alkisah bidadari yang bernama Dewi Nawang Wulan, Dewi Nawang Sari, Dewi Nawang Arum, Dewi Gagar Mayang dan Dewi Tunjung Biru sampai di hutan Saranini bersama-sama mandi di telaga. Mengetahui para bidadari madi di telaga, Joko Tarub mengintip dan bermaksud mengambil selendang Dewi Nawang Wulan. Setelah puas mandi dan bersandau gurau di telaga, mereka bermaksud kembali ke kahyangan, tetapi karena selendang Dewi Nawang Wulan hilang diambil oleh si Jaka tarub sehingga dia tidak bisa kembali ke kahyangan. Dia menangis sedih ditinggal teman-temannya. Sambil menangis dia mencari selendang kesana-kemari dan mengucapkan janji “barang siapa bisa menemukan selendang tersebut, apabila perempuan akan dijadikan saudara dan apabila laki-laki akan dijadikan suami”. Ketika sedang berjalan-jalan mencari selendang yang hilang, Dewi Nawang Wulan bertemu Joko Sambung dan teman-temannya. Dewi Nawang Wulan dicegat dan dipaksa ramai-ramai namun berhasil meloloskan diri dan lari meninggalkan mereka. Beruntung dia bertemu dengan Joko tarub sehingga bisa tertolong, karena dalam perkelahian tersebut Joko Sambung dan kawan-kawannya bisa dikalahkan oleh joko Tarub. Joko Tarub berjanji akan mencarikan selendang yang hilang. Akhirnya Dewi Nawang Wulan bersedia diajak ke Desa Tarub. Sesampainya di Desa Tarub, Joko Tarub dan Dewi Nawang Wulan menemui Mbok Rhanda Tarub, karena kedatangannya sudah ditunggu-tunggu oleh Mbok Randha tarub sejak kepergiannya berburu di hutan beberapa hari yang lalu. Joko Tarub mengenalkan Dewi Nawang Wulan kepada ibunya, maka resmilah mereka menjadi suami istri dan merekapun hidup bahagia. Setelah beberapa lama hidup berumah tangga, Nawang Wulan melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Nawangsih. Pada suatu hari Dewi Nawang Wulan bermaksud mencuci baju di tengah telaga dan berpesan kepada Joko Tarub jangan sekali-kali membuka panci yang digunakan untuk menanak nasi. Tapi karena penasaran dengan pesan yang disampaikan, Joko Tarub tetap membuka panci tersebut. Dia terkejut ternyata yang dimasak hanya satu tangkai padi. Karena tidak memperhatikan pesan Nawang Wulan, maka padi yang dimasak tidak bisa matang menjadi nasi. Sekembalinya mencuci dari telaga, nawang Wulan lansung menuju ke dapur dan bermaksud melihat padi yang dimasak. Alangkah terkejutnya dia ternyata padi yangdimasak masih utuh tidak bisa menjadi nasi. Akhirnya Nawang wulan marah kepada joko Tarub dan terjadilah perang mulut. Karena tidak bisa menahan emosi lalu Joko Tarub memecahkan genthong yang digunakan untuk menyipan selendang Nawang Wulan. Alangkah terkejutnya Nawang Wulan ternyata selendang bidadari yang hilang selama ini disembunyikan joko Tarub di dalam genthong. Kemudian Nawang Wulan mengambil selendangnya dan dipakai untuk kembali ke kahyangan. Joko Tarub menyesali tindakannya yang bodoh dan meminta Nawang Wulan tidak kembali ke kahyangan, tetapi Nawang Wulan tetap pada pendiriannya untuk kembali ke kahyangan sambil menitipkan anaknya Nawangsih. Dia berpesan: 1.Joko Tarub beserta seluruh keluarganya diminta menyiapkan peralatan menumbuk padi. 2.Apabila Nawangsih menangis ingin menyusu pada ibunya, Joko Tarub diminta untuk meletakkan di anjang-ajang di halaman rumah. 3.Apabila Nawangsih menangis di malam hari, Joko Tarub diminta untuk membawanya ke luar rumah dengan melihat bulan di langit. 4.Pada musim penghujan sebelum menanam padi masyarakat desa tarub diminta untuk melihat tanaman parijatha di telaga. Apabila tanaman tersebut hijau dan subur pertanda panen akan berhasil, sebaliknya apabila tanaman tersebut terlihat kurus dan kering pertanda panen akan dating dan gagal. 5.Besuk pada saatnya nawangsih menikah, Joko tarub diminta mengabarkan ke Nawang Wulan sambil melihat bulan. Sekembalinya Nawang Wulan ke kahyangan, Joko Tarub mengasuh Nawangsih sendirian sambil terus berdoa semoga mereka berdua tetap diberi keselamatan tidak ada halangan apapun. Sementara di kahyangan Guru Dewa Bathara Lestyorini meminta kepada bidadari untuk menjemput Nawang Wulan kembali ke kahyangan dan para bidadari melaksanakan perintah itu.