Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaBersih Desa/Upacara adat Lempar Nasi - Ngawi, Jawa Timur
Sejarah: Pada zaman dahulu seiring dengan berdirinya Dusun Tambak Selo Timur, ada seorang tokoh perjuangan pada era penjajahan Belanda sebutan Ki Ageng Tambak. Beliau dapat dikatakan sebagai tokoh besar yang membela masyarakat pribumi dari penjajahan Belanda. Suatu ketika Ki Ageng Tambak bersama pengawalnya dikejar-kejar oleh Belanda dan sampailah ia di tengah hutan. Ki Ageng Tambak merasa terjepit tidak bisa berbuat apa-apa, kebetulan di tengah hutan itu ada sebuah sumber mata air yang dikenal dengan nama ‘sendang’. Di tempat itu Ki Ageng Tambak bersabda bahwa tidak ada satu pelurupun dari serangan Belanda yang bisa menembus tempat persembunyiannya. Ternyata Belanda tidak bisa mengetahui letak persembunyian Ki Ageng, dan beliau berujar bahwa kelak daerah persembunyiannya akan menjadi perkampungan ramai, yang kemudian disebut dengan Dusun Tambak Selo. Untuk mengenang cikal bakal Dusun Tambak Selo ini maka diadakan satu tradisi atau ritual bersih desa dan bertempat di ‘sendang tambak’ Deskripsi: Tradisi atau ritual yang diadakan setiap setahun sekali ini pada hari Jumat Legi setelah panen kedua, yang berupa lempar nasi. Tradisi ini dimaksudkan sebagai ucapan syukur pada Tuhan atas pemberian panen yang melimpah. Upacara ini dimulai pada siang hari dan akan berakhir sore hari setelah Ashar. Sebelumnya warga membawa ambengan atau nasi lengkap dengan lauk pauk dibawa de tempat yang diyakini mempunyai tuah tersendiri yaitu di punden yang diberi nama sendang tambak. Biasanya setiap kepala keluarga membawa ambengan antara 5 – 10 bungkus. Sesaji ini kemudian didoakan oleh kepala desa yang didampingi oleh juru kunci. Setelah didoakan nasi ini tidak dibawa pulang tetapi diperebutkan oleh masyarakat tetapi dilemparkan ke tempat gerombol masyarakat. Adapun maksud dari lempar nasi ini sebagai simbol sedekah kepada masyarakat dan makhluk lain, dan sebagai bentuk penghargaan masyarakat terhadap melimpahnya hasil alam yang mampu menghidupi seluruh warga yang ada di desa ini. Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun dan harus selalu dilakuka.n karena kalau tidak maka akan terjadi bencana atau gagal panen Tradisi ini sudah cukup melegenda sebagai bagian dari nilai-nilai luhur lama da upaya menunjukkan bahwa manusia menyatu dengan alam.