Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | TRADISI SUROAN - Lakarsantri, Kota Surabaya, Jawa Timur |
Tradisi Suroan adalah tradisi yang dilaksanakan pada malam 1 Suro atau 1 Muharram dalam kalender Hijriyah. Kalender Hijriyah digunakan oleh umat Muslim yang di dalamnya terdapat bulan Muharram yang didalamnya terdapat sunnah untuk melaksanakan puasa Asyura. Dalam Bahasa Jawa, Asyura biasa diucapkan dengan kata Suro. Jika dalam bulan Masehi awal tahun dimulai dengan bulan Januari, maka bulan Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriyah. Tanggal 1 Suro dimulai saat matahari terbenam pada hari terakhir bulan terakhir kalender Jawa Dulkaidah (Dzulhijah).
Dalam tradisi Suroan biasanya terdapat hidangan khas yaitu bubur suro atau disebut juga bubur suran. Bubur ini dibuat pada malam hari menjelang tanggal 1 Suro. Berbahan dasar beras dan santan serta ditaburi lauk seperti kacang-kacangan, ikan kecil-kecil seperti teri, sambel goreng tempe, serundeng, parutan kelapa, irisan telur dadar di atasnya dan disandingkan dengan opor ayam. Bubur suro bukanlah sesajen namun hanya sebagai simbol untuk memperingati malam 1 Suro. Biasanya setiap rumah membuat makanan ini kemudian keluarga berdoa bersama untuk selanjutnya bubur ini dibagi-bagikan ke tetangga dan saudara.
Selain tradisi membuat bubur suro, masyarakat Surabaya juga mengadakan yasinan yaitu membaca Surat Yasin salah satu surat dalam Al Quran secara bersama-sama di mushola atau masjid. Beberapa warga masyrakat juga mengadakan ziarah bersama ke wali lima, wali wolu, atau wali songo. Sedangkan beberapa warga lainnya melakukan melekan atau tidak tidur semalam suntuk dan melakukan tahlilan (membaca tahlil) dan berdoa bersama yang dilakukan di makam Sawunggaling yang terletak di Lidah Wetan Gang 3, Surabaya, Jawa Timur. Dalam tradisi Jawa, bulan Suro bukanlah waktu yang baik atau pantangan untuk melakukan suatu hajatan baik pernikahan, sunatan, atau hajatan lainnya. Mereka beanggapan bahwa bulan Suro seharusnya disikapi dengan kesederhanaan, introspeksi dan mawas diri serta bersikap bijak bukannya untuk melakukan pesta. Tradisi Suroan merupakan bentuk rasa syukur terhadap nikmat Allah SWT yang telah diberikan. Keberadaan tradisi Suroan saat ini mulai terancam punah karena sudah banyak generasi muda yang enggan untuk melakukannya.