Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKerajinan Asesoris Manik-Manik/Kerajinan, Galung, Gelang - Jember, Jawa Timur
Sejarah: Desa Tutul Balung menurut keterangan M. Imron sejak lama masyarakatnya banyak yang memiliki mata pencaharian sebagai perajin. Kerajinan yang berkembang di Tutul Balung beragam. Pada masa lalu desa itu pernah menjadi daerah industry anyaman, gerabah, bahkan kerajinan dari kayu. Sampai sekarang daerah Tutu Balung menjadi sentra industry kerajinan, dan salah satu yang dikembangkan adalah kerajinan manik-manik yang berbahan dasar batuan, plastic, fiber dan bahkan dari gading dan tulang (hewan: sapi, kerbau, kambing). Untuk memenuhi permintaan pasar, para perajin di Tutul Balung mendatangkan bahan baku dari daerah lain. Kemudian diolah dan dibentuk menjadi berbagai macam asesoris yang siap di pakai. Pengrajin desa Tutul terus membuat inovasi dan meningkatkan nilai ekonomi dengan terus berkreasi dan membangun jaringan perdagangan dan bahan baku serta permodalan. Kreasi atau inovasi yang dikembangkan tampak dari motif, bentuk, dan bahan baku. Hal tersebut agar lebih menarik konsumen yang lebih luas. Beberapa perajin besar telah mampu memenuhi permintaan pasar di luar negeri, seperti pusat kerajinan Makrifat. Deskripsi: Bahan baku aksesoris ini yang berupa buah pocok didatangkan khusus dari Kota Bondowoso, minimal dua kwintal per minggu untuk setiap pengrajin. Aksesoris dengan bahan baku fiber membutuhkan minimal satu drum cairan fiber per minggu dari Kota Surabaya, sedangkan untuk bahan baku tulang sapi minimal dibutuhkan satu kwintal tulang sapi. Saat ini para pengrajin mulai melakukan inovasi dengan memanfaatkan buah karet. Produk yang dihasilkan berupa gelang, cincin, kalung, handy craft, dan rangkaian manik-manik. Pemasaran kerajinan manik-manik dari Tutul Balung untuk memasok pasar di Bali, Jakarta dan darah lainnya di Indonesia. Ada beberapa showroom besar yang sudah mampu mengisi pasaran asesoris di luar negeri seperti di Arab Saudi dan China.