Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | SEPO SEPI - Bubutan, Kota Surabaya, Jawa Timur |
Dalam adat tradisi masyarakat Jawa, khususnya di Surabaya, Jawa Timur terdapat prosesi bancakan atau selamatan untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia. Bancakan ini digelar setelah pengantar jenazah pulang dari pemakaman. Kemudian mereka segera berkumpul untuk mendoakan jenazah. Bagi masyarakat di sekitar tembok Dukuh prosesi tersebut dinamakan dengan surtana yaitu membuka lahan atau kenali ke tanah semula. Secara filosofis bancakan menawarkan falsawah bahwa yang awalny dan kemabali ke tanah. Adapun jenis dan variasi makanan jaja pasar tersebut antara lain
Bancakan yang dilakukan sebagain warga Surabaya ini juga seperti pada umumnya orang Jawa yang menggunakan tumpeng atau disebut dengan istilah tumpengan. Ada perbedaan antara tumpeng untuk kematian dan tumpeng untuk selamat atau acara lainnya. Dalam prosesi kematian, tumpeng dibelah menjadi 2 (dua) bagian, kemudian dibalik dan dijejerkan kembali sehingga belahan yang satu dengan yang lain membelakangi. Dalam istilah Jawa disbut dengan Geger gathuk geger. Bentuk tumpeng seperti ini sebagai simbol bahwa yang mengalami peristiwa duka dan bukan peristiwa bahagia. Tumpeng, tumpeng, jika tumpengnya terbalik akan tercaga7:30. Tupeng sedikit Tepung sendiri dikenal dengan
Berbeda dengan zaman sekarang, lauk pauk dari tumpeng mungkur. Adapun makanan yang dihidangkan bersama kupat antara lain urap, jangan kluwih, atau ayam panggang. Menurut pakem penyajian tumpeng, lauk-pauk yang disajikan hanya 3 (tiga) macam saja. Tiga macam lauk tersebut adalah tempe, tahu, dan telur ayam kampung. Penyajian tiga lauk pauk inilah yang disebut dengan Sepo-Sepi yang menggambarkan suasana hati keluarga yang ditinggalkan. Suasana menjadi datar atau hambar = Sepo dan SEPI = Kehidupan yang mendadak menjadi sunyi senyap, sepi. Adapun desa yang masih melaksanakan adalah Tembok Dukuh - Kalibutuh - Asem Jajar - Bubutan, Surabaya, Jawa Timur.