Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaMUSIK ODROT - Sukorejo, Kab. Ponorogo, Jawa Timur
Musik odrot adalah salah satu jenis musik tradisional yang berkembang di Ponorogo. Pemberian nama musik odrot diambil dari sumber suara (anamatopea) salah satu instrumen alat musik tersebut yaitu bass (shausophone). Bass mempunyai aksen yang kuat dan peranannya cukup dominan dalam permainan musik ini. Alat musik bass ini bila ditiup akan berbunyi drot...drot...drot.., sehingga akhirnya musik tersebut dinamakan musik Odrot oleh Sri Sarno selaku Kepala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ponorogo pada tahun 1979. Pemberian nama ini diberikan kepada H. Ngabdullah pada acara lomba seni musik tiup di Kabupaten Ponorogo yang pada saat itiu seni musik tiup grup H. Ngabudllah berhasil meraih juara pertama. Alat musik odrot bila dilihat dari bentuk instrumennya merupakan peninggalan Belanda. Pada masa pemerintahan Belanda di Indonesia alat musik tiup ini digunakan sebagai penghormatan pemberangkatan angkatan perang Belanda dan sebagai penghibur para pemimpin Belanda. Alat musik odrot terbuat dari bahan baku yang dapat digolongkan dalam tiga bahan dasar yaitu terbuat dari kuningan/tembaga adalah piston, tenor I dan II, kaltu dan bass. Instrumen yang terbuat dari kulit dililit dengan kuningan yaitu tambur dan jidor, dan instrumen yang terbuat dari kayu dan kulit adalah kendang. Kesenian musik odrot di Ponorogo hanya berkembang di tiga wilayah yaitu di Sampung, Jetis dan Lengkong. Di Desa Lengkong, musik odrot muncul pada tahun 1958, instrumen tersebut dibeli dari Desa Gampeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo. Pembelian alat musik tersebut diprakarsai oleh H. Ngabdullah mengingat kebiasaan masyarakat Desa Lengkong selalu mengundang musik odrot dalam acara hajatan seperti khitanan atau pernikahan. Kelompok musik tiup dibawah asuhan H. Ngabdullah diberi nama Tirta Kencana dan para pemainnya berasal dari keluarga dekat H. Ngabdullah. Kemudian kesenian ini diajarkan kepada warga setempat yang mempunyai minat untuk belajar musik odrot. Lambat laun kesenian ini berkembang menjadi pertunjukan yang diminati oleh masyarakat dan sering ditanggap dalam acara resepsi pernikahan, nadar, khitanan, dan sebagainya. Pada tahun 1980 nama Tirta Kencana dirubah menjadi Kelana Ria oleh Abdul Jalil (ketua perkumpulan musik odrot). Alasan perubahan nama ini dikaitkan dengan visi sanggar musik odrot sekarang yang lebih berorientasi pada profesi. Pertunjukan musik odrot secara garis besar terdiri dari aspek musikal dan nonmusikal. Aspek musikal terkait langsung dengan para musisinya yang berperan secara teknis, sedangkan aspek non musikal merupakan bagian pertunjukan secara keseluruhan, misalnya tata busana, musisi/pemain dan sebagainya. Pemain musik odrot terdiri dari peniup piston (1), tenor 1 dan 2 (2), kaltu (1), bass (1), tambur (1), jedor (1), pesinden (1) dan vokalis qosidah dan musik dangdut (2). Lagu-lagu yan sering ditampilkan saat pertama kali pentas adalah lagu-lagu yang bernafaskan Islam. Namun dalam perkembangannya lagu-lagu yang disajikan berubah mengikuti selera penonton dan penanggap antara lain lagu langgam, pop, dangdut, namun tetap tidak meninggalkan lagu-lagu yang bernafaskan Islam. Dalam pementasannya, tata rias untuk penyanyinya menggunakan tata rias cantik, untuk penyanyi /vokal menggunakan busana sehari-hari swanita sedangkan pesinden berbusana nasional (berkebaya). Tata busana pemain musik odrot disesuaikan dengan acara pementasan yang dibagi dalam dua yaitu pementasan untuk acara hiburan dan acara resmi. Untuk pementasan acara hiburan biasanya hanya memakai kaos yang bertuliskan sanggar kelompok Kelana Ria, dan untuk pementasan resmi menggunakan seragam seperti masinis kereta yang terdiri dari jas hitam dililit warna kuning pada lengan dan bagian depan menggunakan pangkat disisi kiri dan kanan bahu, celana hitam, topi seperti masinis kereta api dan bersepatu.