Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Lamporan - Blora, Jawa Tengah
Lamporan berasal dari kata lampor. Lampor menurut tradisi lisan yang berkembang di masyarakat Blora adalah suara ramai atau gaduh yang berasal dari makhluk halus. Lamporan adalah suatu upacara yang menirukan suara gaduh dari makhluk halus tersebut. Pelaku lamporan adalah mereka yang memiliki hewan ternak seperti sapi dan kerbau, maupun kambing. Peserta upacara laporan adalah bocah angon (penggembala). Masyarakat Blora khususnya di daerah Kunduran melakukan upacara lamporan jika ada pagebluk melanda desa, seperti adanya hewan ternak mati tanpa sebab. Upacara lamporan pada dasarnya adalah sebagai usaha manusia untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar mendapat keselamatan dan kesejahteraan serta terhindar dari penyakit, dan sebagai pengusir roh-roh jahat yang mengganggu desa. Doa-doa yang dipanjatkan memakai bahasa Arab dan diselingi kata-kata pujian untuk para leluhur dengan Bahasa Jawa. Tempat Upacara: Punden desa atau tempat yang dianggap keramat oleh warga desa. Di Desa Kunduran punden keramat dipusatkan di punden Asen Gede. Waktu Pelaksanaan: Malam jumat Kliwon atau jumat Legi pada bulan Sura, dan dilaksanakan selama satu minggu. Acara biasanya dimulai setelah waktu Maghrib, diawali dengan membakar kemenyan sebagai ucapan kula nuwun atau permisi kepada leluhur yang bersemayam di punden desa. Ritual tersebut memiliki urutan sebagai berikut: a. Hari 1, hari pembukaan Upacara Lamporan keliling desa dan menampilkan kesenian barongan b. Hari ke – 2 sampai ke-6 keliling di persawahan jalan pinggir desa memakai tembaru/ serabut kelapa dan kemudian serabut kelapa dilempar ke atas. c. Hari ke- 7, atau penutupan ritual lamporan, berupa penampilan kesenian barongan, arak-arakan keliling desa dan berakhir di punden Asem Gede. Semua obor yang telah digunakan dikumpulkan dan dibakar di tempat tersebut. Acara diakhiri dengan persembahan sesaji tumpengan. Sesaji berupa nasi bucu, nasi uduk, nasi urap, dan ingkung ayam (berupa ayam panggang). Di samping ayam lauk lainnya berupa ikan asin atau gereh. Pemimpin upacara: sesepuh desa, pawang barongan dan juga modin. Peralatan upacara: Obor/ oncor, sabit, cambuk, barongan, sesaji, Obor ada yang dibuat secara bersama-sama namun ada juga yang dibuat sendiri sendiri. Obor dibuat dari bambu dan yang biasa digunakan adalah bambu apus. Pada saat pelaksanaan upacara pada hari pertama para pelaku upacara mengarak barongan keliling desa searah jarum jam, kemudian pada waktu hari terakhir kembali mengadakan arak-arakan barongan namun dengan arah yeng berlawanan dengan perputaran jarum jam.