Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaPencak Dor - Blora, Jawa Tengah
Pencak Dor pada dasarnya adalah pertandingan pencak silat yang dipadu dalam balutan musik. Alat-alat musik yang dipakai biasa tampil untuk musik-musik islami sepeti behug, jedhor dan dipadukan dengan rebana. Oleh karena itu asambel musik tersebut disebut dengan terbang jedor. Alat-alat musik itu juga sering untuk mengiringi kesenian kuntulan dan juga untuk mengiringi shalawat nabi (shalawatan). Di samping itu jedor juga dipakai untuk mengiringi tari pencak. Oleh karena jedor menjadi alat musik yang pokok dalam pertunjukan tari pencak silat maka tari pencak silat itu kemudian disebut juga dengan nama Pencak Dor. Tradisi bela diri itu pada awalnya berkembang di pesantren – pesantren Jawa Timur. Merupakan bentuk pertarungan bebas yang hidup di kalangan santri dan masyarakat umum yang memiliki keberanian untuk bertarung. Dalam pertarungan tersebut, peserta bebas menggunakan jurus dan gaya bertarung. Dalam pertandingan itu diawasi oleh para pendekar yang mumpuni untuk menjaga sportifitas para peserta. Pertunjukan Tari Pencak Dor di daerah Blora hanya tinggal di Dukuh Jati, Desa Sumber, Kecamatan Kradenan, yang dikelola oleh seorang pendekar bernama Rohma. Pada awal tahun 2000 an peguyuban Pencak Dor tersebut masih beraktivitas. Rohma mendirikan paguyuban tersebut pada tahun 1979, dan paguyuban itu diberi nama Sikep Sidi Budi. Kelomok atau paguyuban tersebut lebih menitikberatkan pada gerakan silat daripada pertarungan dalam arti yang sesungguhnya. Para anggota selalu rajin berlatih di depan masjid setempat. Dahulu kelompok tersebut sering mendapat tanggapan untuk mengisi acara hajatan yang digelar oleh warga, namun sekarang hampir tidak pernah lagi ada tanggapan dari warga. Kondisi kesenian inipun bisa dikatakan hampir punah, walaupun masih ada orang-orang yang mampu melakukan pertunjukan Pencak Dor.