Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Kerajinan Topeng Kayu |
Kerajinan topeng kayu merupakan kerajinan dengan bahan dasar kayu yang digunakan untuk membuat topeng. Kerajinan topeng kayu di wilayah Bantul dapat ditemukan di Dusun Diro, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta (Jl. Bantul KM 7,5). Salah satu perajin topeng kayu yang ada di Dusun tersebut adalah Supana atau Ponowiguna (Ponowiguno adalah nama pemberian oleh Kraton Yogyakarta karena Supana merupakan abdi dalem Keraton Yogyakarta). Supana mulai menekuni pembuatan topeng kayu sejak tahun 1971. Keahlian Supana dalam membuat topeng merupakan keturunan dari embahnya yang bernama Warnowaskito. Kecuali sebagai pengrajin topeng kayu Wonowaskito juga berprofesi sebagai pengendang yang handal sekaligus pengamen tari topeng. Tari topeng yang ia bawakan mengacu pada cerita panji. Sehingga Warnowaskito begitu paham dalam mewujudkan sepotong kayu menjadi sebuah topeng yang membentuk karakter tokoh tertentu dalam kisah cerita panji.
Supana (53) semula hanya ikut-ikutan embahnya. Hal itu dilakukan di sela-sela waktu senggangnya. Apa yang dilakukan Supana ini lambat laun akhirnya menjadi kebiasaan atau kegiatan yang dicintainya. Supana pun akhirnya menguasai pembuatan topeng panji. Berbekal itu pulalah akhirnya Supana menekuni pembuatan topeng panji sebagai profesinya sekaligus sebagai pewaris tradisi dari embahnya, Warnowaskito. Selain menekuni Kerajinan topeng Supana juga ahli membuat kerajinan wayang golek.
Proses pembuatan topeng:
a. Untuk membuat topeng dengan kualitas yang baik dipilih jenis kayu yang mempunyai artistiknya tinggi, selain mudah didapatkan mudah pula dikerjakan. Yang paling memenuhi syarat untuk membuat topeng yang bagus adalah kayu jaranan, karena disamping ringan, liat, lunak juga tidak mudah dimakan bubuk. Karena bahan yang ringan maka tidak akan melelahkan penarinya. Bahan baku yang berupa kayu jaranan khusus didatangkan dari Purworejo. Selain bahan baku yang berupa kayu juga kertas limbah. Untuk pewarnaan Supana menggunakan cat akrilik, di samping itu juga cat tradisional.
b. Alat yang diperlukan diantaranya gergaji, kapak, parang, pisau pangot, pahat ukir, bor dan kertas gosok.
c. Langkah kerja untuk membuat topeng yaitu
1. pertama kayu yang bergaris tengah 25-30 cm dipotong dengan panjang 18 cm dan tebal 17 cm.
2. Kemudian membuat global (bakalan) dengan cara ujungnya dibuat meruncing untuk menentukan letak dagu.
3. Selanjutnya untuk menentukan letak hidung, panjang kayu dibagi 3, bagian I dan III diturunkan 3 cm, kemudian dari lebar kayu diambil tengahnya 3 cm dan kedua sisinya diturunkan 3 cm, sedangkan untuk menentukan letak mata, panjang kayu dibagi 2 sama panjang. Selanjunya di bagian sebaliknya dikeruk dibuat batokan dengan kapak.
4. Mencari karakter yaitu dengan memperjelas letak mata, hidung, dan mulut. Kemudian mata dan mulutnya dipahat hingga tembus, selanjutnya kayu dikeringkan.
5. Pengeringan dengan cara diasap selama 2-3 minggu. Selanjutnya digosok dengan kertas gosok, proses berikutnya diukir jamangnya (mahkotanya)
6. Tahap yang terakhir penyempurnaan karakter dan agar lebih awet yaitu dengan cara topeng dicat dengan tekhnik sungging.
Selain menekuni kerajinan topeng Supana juga menekuni pula kerajinan patung wayang golek. Karena Supana mencintai topeng dan wayang golek. Jika hal ini ia tinggalkan ia khawatir tradisi pembuatan topeng dan wayang golek akan hilang. Hasil karya kerajinan topeng kayu banyak dimanfaatkan oleh penari, selain itu juga sebagai koleksi oleh kolektor.