Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaAsal Mula Tradisi Cing-Cinggoling - Gunung Kidul, DI Yogyakarta
Tradisi Cing-cinggoling merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bagaimana asal mula tradisi tersebut dilaksanakan tidak lepas dari tokoh yang bernama Ki Wisangsanjoyo dan istrinya dan Ki Tropoyo. Adapun ceritanya sebagai berikut: Pada masa berdirinya Kerajaan Demak pada saat itu diperintah oleh R. Patah. Raden Patah bermaksud meluaskan agama Islam ke Majapahit. Pada saat itu Kerajaan Majapahit diperintah oleh Prabu Brawijaya. Sebagian Para pembesar Majapahit bersedia masuk Islam, akan tetapi banyak juga yang tetap mempertahankan agama Hindu. Akhirnya terjadilah peperangan antara kerajaan Demak dan Majapahit. Golongan yang mempertahankan agama Hindu menyingkir dan meninggalkan Majapahit, di antaraya adalah Ki Wisangsonjoyo bersama istrinya dan Ki Tropoyo. Pengembaraan mereka sampai di Gunungkidul. Agar tidak diketahui oleh prajurit Demak, maka Ki Wisangsanjoyo memakai nama samaran Kyai Gedang dan istrinya Nyai Gedang. kemudian tempat tersebut dinamakan Dusun Gedangan. Kedatangan Ki Wisangsanjoyo bersama istrinya, dan Ki Tropoyo disambut baik oleh sesepuh desa, yaitu Ki Brajanala, Ki Ngaladangsa, dan Ki Honggonolo. Karena mendapat perlakukan baik dari ketiga sesepuh desa tersebut maka Kyai Gedang merasa berhutang budi kepada mereka. Oleh karena itu ia mencari akal cara apa yang dapat ia lakukan untuk meningkatkan tara hidup masyarakat setempat. Melihat tanah pertanian yang mengalami kekeringan pada saat musim kemarau, kemudian Kyai Pisang memutuskan akan membendung sungai Kedungdawung dengan harapan sawah yang ada di sekitar bendungan tersebut akan mendapat pengairan. Ketiga tokoh desa tersebut menyambut baik gagasan Kyai Pisang. Selanjutnya Ki Tropoyo ditunjuk sebagai pimpinan dalam pengerjaan bendungan. Pada saat pengerjaan bendungan ada dua kejadian yang menarik perhatian Kyai Pisang, di mana ada wanita yang dalam keadaan haid melakukan pekerjaan “ngiles” kedelai yang akan dibuat tempe. Kyai Pisang melihat sendiri kedelai yang sudah di”digiles” terkena darah haid dari wanita itu. Kejadian lain yang dilihat oleh Kyai Pisang yaitu adanya seorang wanita meninggal dunia dalam keadaan hamil. Setelah bendungan selesai dibangun kemudian dibutuhkan saluran air untuk mengairi sawah di sekitar bendungan. Untuk membuat aliran –aliran tersebut Kyai Pisang meminta bantuan sahabatnya dari Majapahit yang bernama Kyai Yudipati yang tinggal di Dusun ponjong. Kyai Yudipati mempunyai pusaka berupa cis yang berguna untuk membuat parit dengan cara menggoreskan di tanah, kemudian terbentuk parit. Dengan adanya parit maka sawah- sawah mendapat pengairan, sehingga masyarakat merasa senang. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, maka warga Gedangan mengadakan sesaji di dekat bendungan. Acara tersebut disertai dengan pertunjukan tarian Cing-cinggoling. Upacara dilaksanaan setiap tahun sekali. Pelaksanaannya sehabis panen kedelai dan harinya dipilih Kamis Wage atau Senin Wage. Hingga kini upacara tersebut masih dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Gedangan, Desa Gedangrejo, Kecmatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Pada pelaksanaan upacara ada pantangan yang harus ditaati oleh peserta upacara. Hal ini karena adanya peristiwa yang dilihat sendiri oleh Kyai Gedang pada saat pengerjaan bendungan. Peristiwa tersebut yaitu ada wanita yang baru haid yang darahnya haidnya mengenai kedelai dan wanita hamil yang meninggal. Sehingga Kyai Pisang berpesan: melarang wanita hamil menghadiri upacara, dan sajian upacara dilarang menggunakan tempe. Pesan tersebut ditaati oleh penduduk setempat. Tarian Cing-cinggoling menggambarkan perjalanan Kyai dan Nyai Pisang serta Ki Tropoyo dari Majapahit menuju Gedangan. Istri Kyai Pisang (Nyai Wisangsanjoyo) terkenal cantik sehingga banyak pria yang tertarik. Dalam perjalanan Nyai Pisang berusaha tertinggal rombongannya. Agar mudah melangkah maka Nyai Pisang menaikkan sedikit kainnya (cincing). Para pria sangat terpesona melihat betis Nyai Pisang sehingga berguling-guling. Untuk mengusir para pria brandal tersebut Kyai Pisang dengan menggunakan pusakanya yang berupa cemiti. Pada awalnya pelaku pertunjukan ini terdiri dai 12 orang dan semuanya pria, satu orang di antara pelaku berperan menjadi wanita., satu orang lagi berperan sebagai suami si wanita., satu orang lagi sebagai pengawal, dan Sembilan orang lainnya sebagai pria brandal. Setelah para tokoh Gedangan yaitu Ki Yudopati, Kyai dan Nyai Wisangsanjoyo sudah tidak ada pertunjukan Cing-cinggoling tetap dilaksanakan oleh anak cucunya higga sekarang. Seiring dengan perkembangan upacara tradisi Cing-ciggoling mengalami perubahan, namun tidak merubah makna dari upacara ini. Pesan yang terkendung dalam cerita tersebut adalah nilai keramat.