Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaJamasan Pusaka Kalibening - Banyumas, Jawa Tengah
Jamasan Pusaka Kalibening merupakan ritual tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Kalibening, Dawuhan, Kecamatan Banyumas, Kabupten Banyumas. Adapun tujuan dilaksanakan ritual tersebut adalah untuk menjaga kondisi fisik dan spiritual dari pusaka- pusaka bersejarah yang tersimpan di Museum Kalibening. Pusaka-pusaka tersebut berupa senjata tradisional, seperti keris, tombak, maupun benda-benda lainnya yang dianggap memilki nilai sejarah dan spiritual yang tinggi. Tradisi ini dilakukan secara turun temurun sejak zaman leluhur mereka. Tempat pelaksanaan di Dukuh Kalibening RT 4/RW 3, Dawuhan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas. Tepatnya di Sumur Kalibening atau Sumur Pesucen atau Sumur Air Barokah yang terletak di komplek makam Mbah Kalibening. Bagi warga Kalibening. Sumur Pesucen merupakan sumber mata air yang dikeramatkan, dan airnya dipercaya dapat digunakan untuk pengobatan. Sehingga sumur tersebut menjadi pusat ritual bagi peziarah. Seiring dengan perkembangan, pelaksanaan upacara dikolaborasikan dengan Kalibening Culture Haritage milik anak muda Kalibening. Tujuannya adalah agar anak-anak muda ikut berpartisipasi dalam melestarikan tradisi yang sudah dilakukan oleh para leluhurnya. Untuk kemudian ikut berperan dalam pelaksanaan upacara terutama dalam hal pentas seni. Adapun waktu pelaksanaan tradisi jamasan pusaka Kalibening pada bulan Maulud bersamaan dengan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Namun untuk penetapan tanggal pelaksanaan upacara berdasarkan penanggalan Jawa Aboge, singkatan dari Alip Rebo Wage. Prosesi tradisi Jamasan Pusaka Kalibening dilaksanakan dengan tata cara sacral dan penuh makna. Adapun tahapan-tahapan prosesi tersebut 1. Pesiapan Persiapan upacara dilakukan sejak bulan Sapar dengan acara kerja bakti bersih makam, rapat panitia, persiapan property upacara dan pentas seni, dan koordinasi dengan Dinporabudpar Banyumas. Kemudian diteruskan dengan perendaman pusaka yang terbuat dari logam selama 3 hari. Tujuannya untuk melepaskan karat yang menempel di pusaka yang terbuat dari logam yang akan dijamas Perendaman dilakukan dengan menggunakan air kelapa dan air jeruk nipis (berguna untuk merontokkan karat yang menempel di pusaka yang akan dijamas). Pembersihan pusaka, seperti : keris, tombak, kujang, dan pusaka lainya yang terbuat dari logam, sedang pusaka dalam bentuk lain misalnya; manuskrip dan kain dan kayu sehari sebelum penjamasan, pada waktu siang hari, dilakukan pembersihan pusaka. 2. Pembukaan. Sebelum inti acara yaitu prosesi penjamasan, dilakukan acara sholawatan. Acara ini dilakukan pada malam hari dan berlangsung hingga pukul 23.00 WIB. Kemudian dilanjutkan dengan menginventarisasi pusaka yang disimpan di museum Kalibening, acara ini dimulai jam 00.00 s.d 02.00 WIB.. Pusaka yang tersimpan di museum Kalibening sering terjadi penambahan dan pengurangan. Penambahan maupun pengurangan terjadi secara riil maupun secara ghoib. Dengan inventarisasi pusaka yang disimpan di museum Kalibening maka akan diketahui jumlah pusaka yang pusaka yang tesimpan di Museum saat terakhir dijamas. 3. Pada pagi harinya prosesi upacara tradisi Jamasan Pusaka Kalibening diawali dengan sambutan-sambutan. Kurang lebih pukul 10.00 WIB pusaka-pusaka yang akan dijamas dibawa dengan cara diemban oleh petugas pembawa pusaka dengan berjalan kaki dan tanpa alas kaki menuju ke Sumur Kalibening atau Sumur Pasucen atau Sumur Air Barokah.Petugas yang membawa pusaka adalah keluarga besar atau trah juru kunci sebanyak 40 orang atau lebih. Masyarakat luar bisa juga ikut membawa pusaka dengan persyaratan, mereka sudah dewasa, mau dan mampu ikut serta dalam acara tersebut, pengecualian apabila ada peziarah yang secara kontinew maka mereka bisa ikut sebagai pembawa pusaka. Hal tersebut sebagai suatu kehormatan bagi peziarah tersebut. Pembawa pusaka bisa laki-laki maupun perempuan.Pakaian yang dikenakan para pembawa pusaka ,apabila laki-laki mengenakan baju lurik, mengenakan iket, dan bawahannya memakai celana panjang. Jika perempuan pakaian yang dikenakan berupa nyamping atau jarit. Setelah selesai dijamas, pusaka-pusaka tersebut dibawa kembali ke Museum Kalibening, namun sebelumnya di ziaorohkan dulu ke Makam Mbah Kalibening, untuk berdo’a. Acara tersebut sebagai laporan bahwa pusaka-pusaka sudah selesai dijamas. Selesai berdo’a, pusaka dibawa menuju museum Kalibening. Sesampai di museum Kalibening, pusaka dijemur, sekaligus diumumkan ke pengunjung terkait dengan pusaka yang ada pada saat itu, jika ada penambahan berapa, dan apa saja, jika berkurang, kurangnya apa saja. 4. Penutupan. Dengan pengumuman keadaanpusaka pada terakhir dijamas maka rangkaian acara upacara Tradisi Jamasan Kalibening telah selesai. Acara tutup dengan do’a yang dipimpin oleh Pak kaum atau Juru Kunci. Selesai do’a masyarakat yang datang memperebutkan tumpeng mentah (tumpeng yang terbuat dari hasil bumi) yang sudah disiapkan di halaman pendopo Musem kalibening, dan dilakukan juga acara makan bersama tumpeng mateng (tumpeng yang terbuat dari nasi dan lauk pauk) yang sudah disiapkan di pendopo Museum Kalibening. Untuk memeriahkan tradisi Jamasan Pusaka Kalibening ditampilkan beberapa seni pertunjukan tradisional dari kelompok seni yang ada di Padukuhan Kalibening, Dawuhn, Kecamatan Banyumas, Kabupten Banyumas, seusai rangkaian upacara tradisi jamasan ditutup. Makna yang terkandung dalam tradisi Jamasan pusaka Kalibening tidak sekedar ritual akan tetapi juga manifestasi dari nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Banyumas, khususnya masyrakakat Kalibening. Ini adalah bentuk nyata dari masyarakat Kalibening terhadapnilai-nilai sejarah, budaya , dan spiritualitas yang harus dijaga pelestariannya.