Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaGrebeg Besar Demak/Peringatan Hari Raya Idul Ad-ha / Idul Qurban - Demak, Jawa Tengah
Sejarah Singkat: Upacara Grebeg Besar Demak diadakan setiap tanggal 10 Dzulhijah (tahun Hijriyah), dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Ad-ha atau Idul Qurban. Pada hari tersebut, pagi-pagi umat Islam melaksanakan sholat Ied, kemudian dilanjutkan menyembelih hewan qurban bagi yang mampu untuk dibagikan kepada fakir miskin. Pada saat itu di halaman Masjid Agung Demak diselenggarakan keramaian yang disisipi syiar keagamaan, melestarikan penyebarluasan ajaran Islam seperti yang telah dilakukan Walisanga. Syiar agama tersebut berlaku sampai kini. Rangkaian-rangkaian dalam prosesi upacara Grebeg Besar Demak, yaitu 1) Ziarah ke makam Sultan-Sultan Demak dan Sunan Kalijaga, 2) Pasar malam rakyat di Lapangan Tembiring Jogo Indah, 3) Selamatan Tumpeng Sanga, 4) Sholat Id, 5) Penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga. Ziarah: Untuk melaksanakan upacara Grebeg Besar Demak, sepuluh hari sebelum Hari Raya Id, pada sore hari sekitar pukul 16.00 diawali dengan ziarah ke makam para Sultan Demak, di makam lingkungan Masjid Agung oleh Bupati, Muspida, para pejabat Pemerintahan Kabupaten Demak, masing-masing beserta isterinya. Selanjutnya mereka berziarah ke makam Sunan Kalijaga. Pasar malam rakyat: Untuk meramaikan upacara Grebeg, diselenggarakan pasar malam sepuluh hari sebelum dan sesudah Hari Raya Idul Ad-ha, bertempat di lapangan Tembiring Jogo Indah. Pada pasar malam tersebut tersedia barang-barang dagangan yang dijual antara lain: untuk keperluan sehari-hari, mainan anak, juga panggung hiburan. Selamatan Tumpeng Sanga: Pada malam hari menjelang Idul Ad-ha, di masjid diselenggarakan Selamatan Tumpeng Sanga. Dinamakan tumpeng sanga karena jumlah tumpengnya sembilan., melambangkan wali sembilan atau Walisanga. Sebelumnya, kesembilan tumpeng tersebut berada pendapa Kabupaten Demak, kemudian diiring oleh para ulama, santri, beserta Muspida dan tamu undangan lainnya menuju ke Masjid Agung. Di masjid, selamatan diawali dengan pengajian umum, kemudian pembacaan doa. Sesudah itu, kepada para pengunjung dibagikan nasi bungkus. Pada upacara-upacara sebelumnya, tumpeng beserta rangkaiannya diperebutkan, namun sekarang supaya tidak berebut maka pengunjung dibaagikan nasi bungkus tersebut. Tujuan selamatan tadi agar masyarakat Demak mendapat berkah keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat dari Allah SWT. Bersamaan dengan selamatan tersebut, di Kadilangu juga diadakan Selamatan Ancakan, bertujuan memohon berkah kepada Allah agar sesepuh dan seluruh anggota panitia penjamasan dapat melaksanakan tugas dengan lancar. Untuk menghormati para tamu yang bersilaturahmi dengan sesepuh hadir, maka mereka dijamu sepantasnya. Penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga: Setelah sholat Id, di makam Sunan Kalijaga, Kadilangu dilaksanakan upacara jamasan pusaka peninggalannya berupa ageman Kutang Antakusuma dan keris Kyai Crubuk. Upacara ini mengakhiri Grebeg Besar Demak. Deskripsi: Deskripsi Penjamasan Pusaka Peninggalan Sunan Kalijaga: Pusaka peninggalan Sunan Kalijaga berupa baju Kutang Antakusuma dan keris bernama Kyai Crubuk. Kutang Antakusuma melambangkan pegangan para santri yang dipakai Sunan Kalijaga setiap berdakwah. Dikisahkan, pada masanya Sunan Kalijaga pernah berpesan bahwa sepeninggalnya, barang miliknya kelak supaya ditempatkan di atas tempat tidurnya, selain itu juga disucikan (dijamasi), dengan minyak jamas. Pesan tersebut mengandung makna agar umat Islam dapat kembali ke fitrahnya dengan mensucikan diri serta meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Allah SWT. Demikian asal mula adanya upacara penjamasan tersebut. Adapun prosesinya, sebelum dimulai upacara di pendapa Kabupaten Demak diadakan pementasan tari Bedhaya Tunggal Jiwa yang dibawakan 9 orang penari remaja putri. Tari ini melambangkan manunggaling kawula lan gusti (bersatunya rakyat/kawula dengan rajanya/pemimpinnya, dst.). Dari sini minyak jamas dibawa ke Kadilangu dengan dikawal oleh ‘Prajurit Patangpuluh‘ menggambarkan pasukan bhayangkara Demak Bintoro. Iring-iringan tersebut disertai pula dengan kesenian tradisional Demak. Bersamaan dengan itu berangkat juga Bupati beserta rombongan menuju Kadilangu dengan mengendarai kereta berkuda. Upacara penjamasan pusaka Sunan Kalijaga dipimpin oleh Sesepuh Kadilangu dilaksanakan di dalam cungkup bangunan makam Sunan Kalijaga dengan mata tertutup. Dilakukan demikian karena penjamas tidak melihat pusaka yang dijamasi dengan mata telanjang, tetapi dengan mata hati. Ahli waris melakukannya dengan ihlas, menjalankan ibadah dan mengamalkan agama Islam dengan sungguh-sungguh