Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaDokar - Blora, Jawa Tengah
Sejarah : Baik di Grobogan maupun Blora transportasi tradisional dinamakan dokar. Mengnai sejarah dokar diawali dengan perkembangan alat angkut dan alat transportasi. Alat trasportasi lahir karena perkembangan akal manusia untuk mengatasi kondisi alam sekitar dan keterbatasan anggota tubuhnya untuk membawa atau memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Serta mempermudah aktifitas hidup. Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, manusia akhirnya dapat menciptakan roda. Roda itulah yang membuat ringan manusia saat memindahkan barang. Pada awalnya roda tersebut terbuat dari papan yang dmisambung dengan kayu melintang. Sandaran roda terpasang mati, sehingga kereta harus digeser atau diangkat apabila hendak membelok. Seiring perkembangan jaman, roda untuk alat angkut tradisional di jawa Tengah terkait dengan perdagangan. Para pedagang dari mancanegara ataupun dari luar Pulau Jawa membawa dagangannya dengan kapal atau perahu untuk mengarungi lautan. Sesampai di daratan, dagangan tersebut diperlukan sarana penunjang untuk membawa dari satu wilayah ke wilayah lain. Mereka membawanya denga pedati, yang ditarik oleh hewan seperti kuda atau sapi. Hal ini diungkapkan dalam Prasati Penggumulan (824 M). Berdasarkan prasati tersebut jelaslah bahwa pada masa itu sarana transportasi darat tradisional berupa pedati adalah sarana utama untuk membawa barang dagangan antar wilayah maupun antar desa. Deskripsi : Dokar yang berada di Blora mempunyai dua bagian utama yaitu badan atau body dokar dan kuda. Badan terdiri dari bum, dinding badan dokar, atap dokar, roda, pir, penutup roda, tempat lampu, tempat cemethi, bel dan tempat duduk. Bum adalah kayu pajang yang dilapisi logam dan diletakan di samping body dokar. Panjangnya sekitar 175 cm. Diding dokar terbuat dari susunan papan kayu agar penumpang terlindungi saat dokar melaju di jalan raya. Atapnya terbuat dari susunan terpal sedang bagian sisinya terkandang dilanjutkan berjuntai sehingga menutup samping kiri dan kanan maupun belakang dari badan dokar yang berfungsi melindungi penumpang pada saat panas dan hujan. Rodanya yang terbuat dari ban bekas atau roda kayu pir yang dipasang diatas as roda dan badan dokar berfungsi sebagi peredam kejut dari getaran yang timbul pada saat dokar dijalankan. Ciri khas dokar yang terdapat di Kabupaten Bloara adalah beroda dua, rodanya menggunakan ban mobil. Alasanya menggunakan ban mobil karena merawatnya mudah dan biayanya lebih irit dibanding menggunakan roda yang terbuat dari kayu.