Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Manten Kucing - Blora, Jawa Tengah |
Sejarah:
Tidak Diketahui Dengan Pasti
Deskripsi:
Upacara tradisional yang berkaitan dengan peristiwa alam, dimana terjadi kemarau panjang. Upacara ini disimbolisasikan sepasang kucing, jantan dan betina, didandani dan diupacarai sebagaimana sepasang pengantin. Lalu seluruh perangkat desa dan warga masyarakat nengarak sang pengantin keliling kampung di bawah terik matahari. Merupakan ritus kesuburran yang dilakukan warga Desa Sukorejo, Kecamatan Tunjungan, ketika hujan tidak kunjung turun, dimana semua sumur, sendang, belik, dan kali telah mongering dan tanah pun retak-retak merekah. Pilihan kucing menyiratkan pesan bahwa kalau kucing yang takut air saja membutuhkan air dan meminta hujan, berarti keadaan sudah sangat memilukan bagi manusia, terutama para petani.
Alat yang digunakan, antara lain: kucing jantan dan betina yang dimasukkan ke dalam kurungan, satu becak untuk mengiringi kucing jantan, para pengiring, barongan dan teerbangan atau rebana, serta berbagai macam ubarampe sebagaimana proses perkawinan manusia, namun dengan nilai yang tidak terlalu mahal. Jalannya upacara: Upacara diawali dengan manten kucing jantan diarak atau dinaikkan becak dengan cara dipangku oleh seorang wanita, diiringi arak-arakan barongan dan rebana. Arak-arakan berkeliling desa dengan membawa seserahan berupa jajan yang dibungkus membentuk bingkisan manten sebagaimana umumnya manusia yang dibawa oleh pengiring pihak kucing jantan. Iring-iringan berkeliling menuju ke tempat pihak manten kucing betina.
Sesampai di tempat kucing betina, kucing jantan dipertemukan dengan kucing betina dengan cara didekatkan. Pada waktu kucing betina dan jantan didekatkan keduanya dibelai-belai oleh seorang sesepuh. Seusai dipertemukan antara kucing betina dan jantan, kemudian mereka memasuki rumah dari pihak kucing betina. Di dalam rumah pihak kucing betina, telah dipersiapkan tempat ruangan.
Semua seserahan diletakkan di atas meja, kemudian kucing betina dan jantan diijabkan oleh sesepuh dari kedua belah pihak (kucing jantan dan betina). Sesudah prosesi ijab selesai, nasi berkat dikeluarkan dan diletakkan di lantai setelah itu baru didoakan bersama warga. Selesai didoakan nasi berkat dibuka bersama dan dibagikan kepada warga yang ikut mendoakan diakhiri dengan menyantap makanan.
Sementara itu di luar rumah ada pertunjukan aksi barongan yang telah mengiringi manten kucing jantan yang diarak tadi. Aksi barongan diiringi dengan tatabuhan gong dan kendang. Setelah itu seserahan yang dibawa oleh pihak kucing jantan diletakkan di lantai di luar rumah kemudian baru didoakan bersama. Doa bersama ini dilakukan oleh warga dan pemain barongan, dengan cara mengelilingi seserahan dan jajan. Seusai didoakan barulah jajan dan seserahan tadi dibagi dan dimakan bersama. Tujuan akhir pelaksanaan upacara ini, adalah sebuah simbolisasi bentuk permohonan kesejahteraan masyarakat tani, dengan disegerakan turun hujan, agar tanah dan desa kembali subur dan makmur.