Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | RADHIN SAGHÂRÂ - BANGKALAN, JAWA TIMUR |
Sejarah:
CARÈTA RA’YAT RADHIN SAGHÂRÂ konon terjadi ketika Pulau Madura belum dihuni orang. Orang yang pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Madura bernama Putri Doro Gung, ibunda Radhin Saghârâ. Putri Doro Gung adalah putri Sang Hyang Tunggal, yaitu raja Kerajaan Gilingwesi di Jawa. Konon, pada suatu hari Putri Doro Gung bermimpi menelan bulan. Beberapa hari setelah mengalami mimpi tersebut, tiba-tiba Putri Doro Gung mengandung. Mengetahui putrinya mengandung tanpa suami, Sang Hyang Tunggal menjadi sangat marah. Dia lalu memerintahkan kepada patihnya yang bernama Patih Poleng Sare untuk membunuh Putri Dodo Gung. Ketika Patih Polengsare mengayunkan pedangnya untuk menebas leher Putri Doro Gung, tiba-tiba pedangnya terpental jauh dan menghilang. Dengan peristiwa itu patih Polengsare percaya bahwa Putri Doro Gung memang tidak bersalah. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak kembali lagi ke istana gilingwesi, melainkan akan mengabdi kepada Putri Doro Gung.
Patih Polengrase kemudian membuat rakit. Putri Doro Gung dinaikkan rakit, kemudian didorong melaju ke tengah samodera. Patih Pelongsare berpesan, jika menghadapi kesulitan hendaklah memanggil dirinya yang kini sudah berganti nama menjadi Kè Poleng.
Putri Doro Gung terdampar di daratan kecil yang menjulang di tengah samodera. Oleh karenanya, tempat tersebut kemudian diberi nama madiosaghârâ ‘tengah samodera’ hingga kemudian terkenal dengan nama Madura. Putri Doro Gung melahirkan putra laki-laki di hamparan pasir di pinggir samodera. Oleh karena itu anaknya kemudian diberi nama Saghârâ. Putri Doro Gung merasa kesulitan dalam merawat bayi. Dia lalu memanggil Ki Poleng. Ki Poleng pun segera datang dengan membawa perlengkapan keperluan bayi. Setelah cukup membantu, Ki Poleng kembali menghilang. Namun setiap hari Ki Poleng selalu datang untuk membantu merawat Radhin Saghârâ. Putri Doro Gung dan Radhin Saghârâ tinggal di suatu tempat yang banyak ditumbuhi pohon nepa. Oleh karena itu, tempat tersebut kemudian dinamakan Desa Nepa.
Suatu ketika, setelah agak besar Radhin Saghârâ bermain sendirian di tepi samodera. Tiba-tiba dia lari terbirit-birit ketakutan. Katanya ada dua ular naga yang sangat besar. Mendengar hal itu Putri Doro Gung memanggil Kè Poleng. Begitu datang, kè Poleng menyuruh Radhin Seghârâ untuk membanting kedua naga tersebut. Begitu dibanting, dua naga tersebut berubah wujud menjadi dua buah tombak yang kemudian dinamai ‘Sè Nanggala’ dan ‘Sè Alugara’. Dengan tombak tersebut Radhin Saghârâ berhasil membantu Sang Hyang Tunggal, Raja gilingwesi, mengusir musuh yang datang dari China. Atas jasanya tersebut Radhin Saghârâ akan diambil menantu oleh Sang Hyang Tunggal. Untuk itu Sang Hyang Tunggal menanyakan siapa ayah Radhin Saghârâ. Radhin Saghârâ pun lalu kembali ke Madura untuk menemui ibunya guna menanyakan siapa ayahnya. Putri Doro Gung berterus terang kepada Radhin Saghârâ bahwa dirinya lahir tanpa seorang ayah. Mendengar hal itu Radhin Saghârâ merasa malu. Oleh karena itu ia memutuskan untuk menghilang dari kehidupan dunia. Putri Doro Gung menyetujui keputusan Radhin Saghârâ. Akhirnya mereka berdua pun menghilang.
Deskripsi:
Sampai saat ini cerita rakyat mengenai Radhin Saghârâ masih dikenal di kalangan masyarakat Madura, khususnya di Kabupaten Bangkalan.