Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Kerajinan Gerabah Bayat - Kab. Klaten, Jawa Tengah |
Sejarah:
Gerabah adalah perkakas yang terbuat dari tanah liat yang dibentuk kemudian dibakar untuk kemudian dijadikan alat-alat yang berguna membantu kehidupan manusia.
Asal mula:
Gerabah diperkirakan telah ada sejak masa pra sejarah, tepatnya setelah manusia hidup menetap dan mulai bercocok tanam. Situs-situs arkeologi di indonesia, telah ditemukan banyak tembikar yang berfungsi sebagai perkakas rumah tangga atau keperluan religius seperti upacara dan penguburan. tembikar yang paling sederhana dibentuk dengan hanya menggunkan tangan, yang berciri adonan kasar dan bagian pecahannya dipenuhi oleh jejak-jejak tangan (sidik jari), selain itu bentuknya kadang tidak simetris. selain dibuat dengan teknik tangan, tembikar yang lebih modern dibuat dengan menggunakan tatap-batu dan roda putar
Deskripsi:
Gerabah adalah perkakas yang terbuat dari tanah liat yang dibentuk kemudian dibakar untuk kemudian dijadikan alat-alat yang berguna membantu kehidupan manusia.
Macam-macam gerabah: Piring, kendi, tempayan, anglo, kuali, celengan, pot, gerabah hiasan.Sentra gerabah dan keramik Jawa Tengah terletak di Dukuh Bayat, Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Klaten. Berjarak sekitar 15 Km selatan kota Klaten, lokasi kerajinan gerabah Bayat beradaMemasuki Desa Melikan yang ditandai dengan gapura ucapan Selamat Datang, nuansa desa penghasil kerajinan gerabah begitu kental. Tak ubahnya melihat kekayaan langka dunia. Tak lebih dari seratus meter dari gapura, kedai-kedai berjajar di kiri kanan jalan memamerkan beragam bentuk kerajinan, berbahan tanah liat yang dibakartersebut.
Di wilayah seluas kurang lebih 300 m2 ini terdapat sedikitnya ada 80 pengrajin gerabah dan keramik. Puluhan warga Dukuh Pager Jurang ini sangat menggantungkan matapencahariannya, dari aneka kerajinan berbahan dasar tanah liat tersebut. Tempat atau sanggar pembuatan gerabah disetiap rumah, tidak memerlukan tempat khusus, melainkan menyatu dengan ruangan lain. Warga Melikan membuat keramik dengan teknik putaran miring, dan hanya terdapat di desa ini. Alhasil, kerajinan gerabah dan keramik di Bayat berkembang sedemikian pesatnya. Bahkan di Padukuhan inilah didirikan Laboratorium Pusat Pelestarian Budaya Keramik Putaran Miring Melikan. Teknik putaran miring. Ya, inilah teknik pembuatan gerabah yang hanya dapat kita dijumpai di Dukuh Pager Jurang dan di Desa Melikan, secara keseluruhan sebagai pusat pembuatan gerabah. Konon, pembuatan keramik putaran miring di Desa Melikan sudah dilakukan sejak 300 tahun lalu.
Ciri gerabah Desa Melikan dari warnanya yang coklat polos kehitaman, menciptakan tekstur kasar namun antik dan eksotis. Warna alam yang muncul dari gerabah disebabkan oleh tanah yang dibakar dengan daun munggur. Warna natural yang dihasilkan karena tanah yang digunakan khusus, dicampur dengan sedikit pasir.
Aneka kerajinan gerabah dari Bayat jarang mendapat sentuhan warna-warna lain. Teknik cetakan miring gerabah dan keramik Bayat ini ternyata menjadi ke-khas-an seni gerabah dan keramik
: