Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Tetaken - Pacitan, Jawa Timur |
Sejarah:
• Budaya khas masyarakat Pacitan ini berasal dari lereng Gunung limo di Kecamatan Kebonagung. Keyakinan masyarakat sekitar Gunung Limo diwujudkan dengan bentuk upacara yang disebut Tetaken. Upacara ini dilaksaakan masyarakat Gunung Limo setiap tanggal 15 Muharram/Suro.
• Sejarah Upacara ritual tetaken ini bermula dengan kisah, ketika Tunggul Wulung bersama Mbah Brayat mengembara. Tujuan, melakukan pengabdian dan menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa setelah bertapa di Gunung Lawu. Namun, dalam perjalanan, dua orang ini berpisah. Mbah Brayat memilih tinggal di Sidomulyo, Kiai Tunggul Wulung memilih lokasi yang sepi di puncak Gunung Limo Kebonagung. Diceritakan bahwa Kyai Tunggul Wulung adalah orang pertama yang melakukan babat alas di kawasan Gunung Limo yang kelak kemudian disebut Mantren.
• Upacara adat Tetaken memiliki kaitan historis dengan Gunung Limo. Cerita dimulai saat kerajaan Majapahit mengalami kemunduran dan yang menjadi Raja Majapahit adalah Brawijaya V, dimana Putra Brawijaya V menikah dengan seorang putri Cina. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, bila orang Jawa menikah dengan orang Cina maka orang Jawa tersebut akan kalah dalam segala hal. Brawijaya V menyadari hal tersebut, ia kemudian menyiapkan seseorang untuk berjaga-jaga yaitu Ki Tunggul Wulung. Brawijaya V menyuruh Ki Tunggul Wulung bersemedi di Gunung Lawu. Ki Tunggul Wulung berangkat ke Gunung Lawu. Sesampainya di Gunung Lawu, Ki Tunggul Wulung bertemu dengan Pandito yang sakti.
• Di saat itulah Agama Islam masuk ke tanah Jawa lewat daerah pesisir utara Pulau Jawa, karena tidak ingin masuk Islam, ketiga saudara Ki Tunggul Wulung yaitu Ki Brayut, Ki Buwono Keling, Ki Tiyoso melarikan diri ke daerah selatan sesuai dengan petunjuk gurunya, tempat yang datar, yang dinamakan “Alas Wengker Kidul”. Sesampai di Wengker Kidul perjalanan mereka dibagi menjadi tiga Ki Buwono Keling lewat sebelah utara, Ki Tiyoso lewat pesisir selatan dan Ki Brayut lewat tengah hutan.
• Singkat cerita Majapahit mengalami huru-hara besar dan Ki Tunggul Wulung turun gunung, namun huru-hara tdk bisa dipadamkan kemudian Ki tunggul Wulung memutuskan untuk mencari ketiga saudaranya. Setelah peristiwa tersebut Ki Tunggul Wulung sampailah di tempat yang dinamakan Astono Genthong, dari situ ia melihat gunung yang berjajar empat ( tidak lima bila dilihat dari Astono Genthong ). Kemudian ia mempunyai firasat bila saudaranya berada di gugusan gunung tersebut, namun sesampainya di gunung tersebut ia tidak bertemu saudaranya.
• Dari gugusan gunung yang berjumlah lima salah satunya adalah tempat untuk bertapa atau bersemedi atau juga teteki. Dikisahkan pula Kyai Tunggul Wulung adalah orang pertama yang membuka lahan atau babad alas di sekitar lereng Gunung Limo untuk mencapai lokasi pertapaan harus melewati banyak rintangan seperti tangga (ondo rante) selain itu harus menembus hutan lebat, tebing yang terjal serta Selo Matangkep.Selo Matangkep adalah sebuah celah sempit diantara batu besar yang hanya cukup dilewati sebadan orang saja, di pintu masuk Selo Matangkep tersebut dipercaya apabila ada pengunjung yang berniat jahat maka tidak akan bisa melewatinya, sementara bagi yang berniat baik untuk berkunjung ke pertapaan kendati berbadan besar maupun kecil bisa melewatinya
Diskripsi:
Upacara ini berasal dari lereng Gunung Limo Kecamatan Kebonagung namanya upacara Tetaken. Upacara ini dilaksaakan masyarakat Gunung Limo setiap tanggal 15 Muharram/Suro.
• Upacara berbentuk ritual ini sudah turun temurun dilaksanakan masyarakat di lereng Gunung Limo, Desa Mantren Kecamatan Kebonagung, Pacitan. Ritual upacara Tetaken merupakan upacara bersih desa atau sedekah bumi. Model dari ritual ini adalah ketika sang juru kunci Gunung Limo, Somo Sogimun, turun gunung bersama 16 anak buahnya, yang sekaligus murid-muridnya. Mereka baru selesai menjalani bertapa di puncak gunung dan akan kembali ke tengah masyarakat. Tetaken adalah tradisi khas masyarakat kaki Gunung Limo yang masih dipelihara dengan baik sampai saat ini. Bagi masyarakat Pacitan, Gunung Limo adalah simbol kekuatan dan nilai spiritual.
• Tetaken berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti teteki atau maknanya adalah pertaapaan
• Tetaken adalah acara pembuka rangkaian acara berikutnya. Setelah rombongan turun, iring-iringan besar warga muncul, memasuki area upacara. Mereka mengenakan pakaian adat Jawa. Barisan paling depan pembawa panji dan pusaka Tunggul Wulung dengan dua keris, satu tombak, dan Kotang Ontokusumo. Selain membawa berbagai hasil bumi dan keperluan ritual (tumpeng dan ingkung), di baris terakhir beberapa orang tampak membawa bumbung (wadah air dari bambu) berisi legen atau nira (air yang diperolah dari pohon aren). Saat berada di tempat acara, secara bergilir para pembawa legen menuangkan isi bumbungnya ke dalam sebuah gentong yang diyakini bermanfaat untuk kesehatan. Kemudian setelah semua penunjang ritual berada di tempat acara, acara inti pun dimulai. Sebagai tanda kelulusan, ikat kepala para murid itu dilepas. Murid-murid satu persatu diberi minum air dari sari aren tersebut.
• Secara bergilir, para murid tersebut menghadapi tes mental dengan penguasaan ilmu bela diri, serta kadang–kadang mendapatkan cambukan. Prosesi tersebut bermakna bahwa tantangan bagi pembawa ajaran kebaikan tidaklah ringan, harus menghadapi ujian dan rintangan yang berat. Namun semua akhirnya dapat diatasi, dan pada akhirnya kebaikan mampu mengalahkan kejahatan.
• Pada akhir acara, semua warga melakukan tarian bersama Langen Bekso dengan cara berpasangan. Tua muda. Laki-laki dan perempuan larut dalam kegembiraan. Gending-gending Jawa mengiringi setiap gerak langkah mereka. Kegembiraan masyarakat bertambah karena hasil panen Desa Mantren melimpah untuk kesejahteraan masyarakatnya.
• upacara ritual tetaken ini dilaksanakan setiap tanggal 15 Muharram Upacara ini digelar di Plataran Gunung Limo, Mantren, Kebonagung. yang dilaksanakan mulai pukul 13.00 dilanjutkan dengan malam tirakatan yang dimulai pukul 19.30 WIB. Pelaksanaan Upacara Adat Tetaken digelar oleh Paguyuban Tetaken Gunung Limo intinya yaitu kirab gunungan, kirab pusaka Tunggul Wulung, Ujuban Ruwat Nagari dan Umbul Bunga, Rebut Berkah Tirta Rasa Darma, dan diakhiri dengan malam Tirakatan.
• Tetaken berasal dari bahasa Sansekerta yang maknanya teteki artinya: pertapaan.
• Beberapa prosesi yang dilakukan dalam ritual tersebut meliputi Sebo, Cantrik, Semedi, Thontongan, Mandhap, Siraman, Pandadharan, Kirab, Srah-srahan, Ujuban, dan diakhiri dengan pertunjukan tari khas Gunung Limo. Sebo merupakan prosesi awal sebelum upacara adat Teteki dimulai. Sebo berarti menghadap untuk menjadi seorang murid, dalam prosesi awal ini sang juru kunci memberikan pengarahan atau wejangan kepada calon murid bahwa untuk meraih ilmu kanuragan itu harus menempuh lelaku atau tirakat antara lain, poso, topo, semedi, dan yang paling penting yaitu melaksanakan dharma atau kewajiban.