Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Adat Bathok Bolu - Sleman, D.I. Yogyakarta
Sejarah: Upacara adat Bathok Bolu dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Sambiroto. Maksud dilaksanakannya upacara tersebut adalah untuk mengenang Pangeran Ganthi Sujono putra dari Hamengku Buwana V yang bersemadi (bertapa) di Kraton Kajinian Alas Ketangga (Sambiroto). Tempat tersebut oleh masyarakat setempat dianggap sakral yang dapat digunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan dengan cara bersemadi. Pangean Ganthi Sujono dalam kepasrahanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa berusaha untuk menyatukan diri dengan Tuhan guna memperoleh kemurahanNya. Selain itu, upacara tersebut dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rezki kepada masyarakat Sambiroto. Deskripsi: Bathok Bolu merupakan upacara tradisional yang dilaksanakan oleh masyarakat Sambiroto. Upacara tersebut dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 10 Muharam (tahun Hijrah). Upacara Adat Bathok Bolu diawali dengan pengambilan Trirto Panguripan (air kehidupan) yang ada di sendang (telaga kecil) Ayu. Pengambilan air tersebut dilakukan pada malam hari pukul 19.00 WIB sehari sebelaum pelaksanaan upacara Bathok Bolu yaitu tanggal 9 Muharam. Setelah itu, air yang diambil dari sendang Ayu tersebut dikirab menuju masjid desa setempat dan disemayamkan di tempat tersebut. Kecuali itu, di masjid tersebut juga diadakan macapatan atau selawatan. Pada tanggal 10 Muharam, jam 19.00 dilaksanakan prosesi kirab Tirta Panguripan yang diberangkatkan dari masjid menuju ke tempat pelaksanaan yaitu di “Kraton Bathok Bolu Alas Ketangga”. Kirab tersebut diikuti oleh satu bregoto prajurit, sesepuh desa, tokoh masyarakat, ulama, dan warga masyarakat yang lain. Sesampainya di tempat pelaksanaan upacara pimpinan kirab kemudian menyerahkan uborampe kepada juru kunci. Setelah penyerahan tersebut acara dilanjutkan dengan penampilah tari gambyong serta fragmen peringatan Pangeran Ganthi. Selesai acara tersebut dilanjutkan dengan doa bersama, diteruskan pembagian air yang dianggap suci yaitu Tirta Panguripan kepada para peserta upacara. Upacara Bathok Bolu diakhirnya dengan dipentaskannya pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.