Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Reog Pandhalungan - Jember, Jawa Timur |
Sejarah :
Reog memang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur. Namun di Jember, reog juga menemukan rumahnya, terutama di wilayah selatan. Bahkan, di Jember, reog tak hanya dimainkan oleh mereka yang berasal atau memiliki pertalian darah dengan warga Ponorogo. Reog bisa sampai ke daerah Jember itu karena adanya interaksi antarmanusia. Interaksi tersebut berawal dari upaya pemerintah kolonial membawa para kuli perkebunan dari wilayah di sebelah barat Jember (orang Jember, Banyuwangi, biasa menyebut dengan istilah wong kulonan atau Mataram) untuk bekerja di Jember. Belanda menjadikan Jember sebagai daerah pemasok hasil perkebunan, mulai dari tembakau, kopi, tebu/gula. Para pekerja tersebut jauh dari kampung halaman, dan kemudian membentuk kelompok-kelompok seni reog sebagai bagian dari penguatan identitas diri.
Menurut penututan Sumarto salah seorang penggiat seni di Jember dikatakan bahwa Reog di Jember sudah ada sejak masa kolonial. Ada dua kelompok reog tertua di Jember, yakni di Desa Pontang Kecamatan Ambulu dan Desa Kesilir Kecamatan Wuluhan. Sampai sekarang ada sekitar 20 an grup reog di seluruh Jember.
Deskripsi :
Dalam pertunjukan reog terdapat topeng Singo Barong yang merupakan simbol dari raja Bhre Kertabumi.yang di atasnya di tancapkan bulu - bulu burung Merak yang menyimbolkan kuatnya pengaruh para bala China nya yang mengatur segala gerak dan tingkah lakunya.
kelahiran kesenian Reog dimulai pada tahun saka 900. dilatar belakangi kisah perjalanan Prabu kelana Sewandana, raja Kearajaan Bantarangin yang sedang mencari calon permaisuri. beberapa prajurit berkuda dan patihnya yang setia, Bujangganong. Akhirnya gadis pujaannya telah ditemukan, Dewi Sanggalangit, putri kediri. Namun sang puti mnetapkan syarat tertentu apabila sang prabu ingin lamarannya diterima, yakni sang prabu harus menciptakan kesenian baru terlebih dahulu. Maka dari sinilah kesenian reog hadir. Prabu Kelana Sewandana menciptakan reog sebagai persyaratan lamarannya, Bentuk reog sebenarnya merupakan sebuah sindiran terhadap Prabu Kelana sewandana (kepala singa) sudah disetir atau sangat dipengaruhi oleh permaisurinya (kepala merak) yang dapat dilihat dari penempatan kepala singa yang terletak dibawah bulu merak.
Menarik untuk melihat reog, sebab reog sendiri memiliki berbagai pengembangan sesuai dengan budaya setempat. Reog yang berkembang di Jember banyak mendapat sentuhan budaya pandhalungan. Kehadiran Sardulo Anorogo di Jember membuat persebaran peminat reog lebih beragam, dan ini mempermudah regenerasi. Anggota paguyuban mereka berasal dari Lumajang, Gresik, Tulunga¬gung, Jember, Probolinggo, dan bahkan dari Bali. Sardulo Anorogo mampu menyumbangkan warna tersendiri. Sardulo Ano¬rogo mengadaptasi gerakan-gerakan seni tradisi lain, seperti gaya gamelan Banyuwangi, gamelan jaranan, atau penambahan model atraksi.
Di samping itu dibalik keindahan gerakan tari dan ornamennya tersimpan makna filosofis tentang perjuangan melawan raja yang korup. Sungguh kesenian Reog Ponorogo merupakan salah satu budaya warisan leluhur bangsa Indonesia
Uraian singkat :
Untuk melestarikan reog perlu diambil langkah sebagai berikut:
1. Festival reog se Jember dan kemudian karena reog juga menjadi warisan nasional maka perlu diadakan festival reog se Jawa Timur atau bahkan se Indonesia
2. Perlu diperkenalkan kepada generasi muda/ siswa melalui kegiatan di sekolah dan di masyarakat
3. Regenerasi pemain reog dan para penabuh gamelan harus terus dilakukan
4. Bantuan atau komitmen dari berbagai pihak (pemerintah, penggiat seni, swasta)