Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Roti Kembang Waru - Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta |
Sejarah:
Kue Kembang Waru yang merupakan salah satu kue khas Kota Gede selain Kipoh. Yah memang awal mula kue ini terbentuk karena kebradaan pohon Waru yang banyak berdiri di Kota Gede hingga sekarang. Keberadaannya kini sudah tidak ditemukan di warung-warung, biasanya ditemukan di acara-acara tertentu salah satunya adalah acara pernikahan. Dulu Kue ini dibuat untuk persembahan kepada raja-raja Mataram ketika ada di kota gede namun setelah masa perang kue ini menghilang dan beberapa puluh tahun kue ini muncul kembali sebagai hidangan untuk pernikahan. Sempat hilang lagi dan pada tahun 1984, pak Basis memunculkan lagi tradisi kue Kembang Waru ini sebagai usaha.
Salah satu pengusaha roti kembang waru yang masih bertahan, adalah “Roti Kembang Waru Bu Teguh” , beralamat di Bumen RW 06/24 Kotagede. Untuk mempero¬leh roti kembang waru Bu Teguh, harus memesan terlebih dahulu (tidak menjual bebas di pasaran)
Kembang Waru adalah sebuah nama kue lokal khas Kota Gede, Jogjakarta namun keberadaanya kini sudah kian langka, walaupun ada tapi tidak dijual di warung, kios apalagi di supermarket. Keberadaanya sungguh sangat sulit untuk ditemukan, beruntung saya bisa bertandang kesebuah rumah di pinggiran Kota Gede dan menemukan keluarga pengerajin kue langka ini yang masih bertahan.
Ibu Sogita, 59 tahun bersama sang suami Bapak Basis, 67 tahun adalah sepasang suami istri yang menjadi salah satu pengerajin kue yang memiliki nama nan cantik ini. Diawali sekitar tahun 1982 mereka memulai usaha kecil-kecilan dengan menjual Rp. 45 hingga kini harganya menjadi Rp.900 dan Rp. 1.000 perkue, dulu kue yang mereka bikin biasanya dititipkan diwarung dekat rumah. Tak banyak yang berubah dari cara bikin, loyang, hingga tempat pemanggangan cenderung malah tak berubah, uniknya pemanggangan yang mereka gunakan masih sangat tradisional dimana mereka menyebutnya dengan nama “Pan”. Didapur produksi kue Ibu Sogita tersedia dua buah Pan.
Saat ini menurut Pak Basis, pengerajin kue Kembang Waru hanya tersisa sebanyak 6 kelurga saja se-Kota Gede, tapi jika dihitung sampai ke penyedia arang jumblah mereka total 26 orang dan ke 26 orang ini tergabung dalam satu wadah yang di awasi langsung oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jogja dan sering kali mereka mendapat bantuan modal karenanya. Setiap 15 hari sekali perkumpulan usaha kecil ini melakukan pertemuan semacam arisan, bergiliran dari rumah anggota satu ke anggota lainya demi menjaga kebersamaan yang telah ada.
Meski merupakan salah satu icon Kota Gede namun keberadaanya kini kian memprihatinkan, pengerajin yang kian sedikit salah satu faktor selain menipisnya penikmat kue yang padahal sangat enak. Saat ini Ibu Sogita hanya melayani pembeli lewat pesanan saja, mereka tidak mau memproduksi secara berlebihan dan menitipkan kue-kue legit ini di warung karena pengalaman mengajarkan mereka biasanya kue-kue itu bakalan tidak laku. Yang menjadi pertanyaan besar, sesungguhnya apa yang salah dengan kue Kembang Waru, sehingga terpuruk seperti ini? Gudeg bisa bertahan dan malah kian diminati oleh wisatawan terlebih orang lokal sendiri lalu kenapa kue nan legit ini tidak? Apakah gerangan yang sesungguhnya terlupakan? Saya rasa itu yang menjadi pekerjaan rumah buat kita terlebih warga Jogja sendiri. Mari angkat Kue Kembang Waru agar kian bermekaran dan tak layu lagi, mari selamatkan kuliner bangsa dari serbuan fast food luar yang padahal sangat tidak sehat.
Deskripsi:
Makanan tradisional khas Kotagede yang dibuat dari bahan tepung beras dengan bumbunya: telur, gula pasir, mentega/minyak kelapa, vanili, kayu manis jangan yang dihaluskan, dan santan.
Cara membuatnya: telur dan gula dikocok sampai rata, kemudian tepung dan vanili dimasukkan diaduk-aduk sampai rata, setelah itu dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk kembang waru dan di pan dengan dioseri (diolesi) mentega/ minyak kelapa. Makanan ini disajikan dan disimpan ke dalam lodhong/toples.
Proses pembuatan kue Kembang Waru pun dilakukan dengan cara tradisional dan sederhana. Alat pemanggang kue bentuknya unik, mereka menyebutnya “pan” ini masih menggunakan arang yang diletakkan di atas dan di bawah pan tersebut. Walaupun cara membuatnya sederhana dan tradisional, kue ini cocok untuk lidah semua kalangan. Rasa empuk, manis dan renyah langsung terasa ketika mencicipi kue ini.