Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaNumplak Wajik - KotaYogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta
Sejarah: Empat hari sebelum dilaksanakannya upacara Grebeg Mulud, di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dilaksanakan sebuah upacara adat pendahuluan. Upacara yang disebut sebagai Numplak Wajik ini dilaksanakan pada tanggal 8 Mulud ini, sore hari di Pawon Ageng di halaman bangsal Kemagangan Kidul (selatan) dan harus disaksikan oleh salah seorang saudara Sri Sultan yang menjadi pembesar (pengageng) Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Upacara Tumplak wajik merupakan prosesi menumpahkan wajik untuk membuat gunungan estri yang akan digunakan untuk upacara Garebeg Syawal pada idul fitri 1434 H. Prosesi ini dilaksanakan senin sore sekitar pukul 16.00 WIB dan dipimpin langsung oleh Putri Sulung Sri Sultan Hamengkubuwono X,Gusti Kanjeng Ratu Pembayun. Sebelum ritual menumpahkan wajik  terlebih dahulu dipanjatkan doa untuk keselamatan Sri Sultan Hamengkubuwono X, seluruh leluhur Mataram dan memohon keselamatan  untuk masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelaksanaan doa dipimpin oleh Penghulu Kraton, Raden Riyo Abdul Ridwan. Setelah doa selesai selanjutnya prosesi tumplak wajik dimulai. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, upacara numplak wajik dianggap sakral. Oleh karena itu, diperlukan ubarampe berupa empon-empon sebagai sarana tolak bala. Jenis empon-empon yang digunakan untuk tolak bala adalah dlingo bengle. Dlingo bengle berwarna kuning ini dioleskan di sekitar wajik. Kemudian sisanya dibagikan kepada warga yang menyaksikan di luar pagar Panti Pareden. Warga ngalab berkah dari sisa empon-empon ini sebagai tolak bala. - See more at: http://www.jogjatv.tv/berita/12/08/2013/upacara-tumplak-wajik-mengawali-garebeg-syawal-1434-h#sthash.rLKz51dV.dpuf Deskripsi: Upacara tumplak wajik adalah upacara pembuatan Wajik (makanan khas yang terbuat dari beras ketan dengan gula kelapa) untuk mengawali pembuatan pareden yang digunakan dalam upacara Garebeg. Upacara ini hanya dilakukan untuk membuat pareden estri pada Garebeg Mulud dan Garebeg Besar. Dalam upacara yang dihadiri oleh pembesar Keraton ini di lengkapi dengan sesajian. Selain itu upacara yang diselenggarakan dua hari sebelum garebeg juga diiringi dengan musik ansambel lesung-alu (alat penumbuk padi), kenthongan, dan alat musik kayu lainnya. Setelah upacara selesai dilanjutkan dengan pembuatan pareden Upacara Numplak Wajik dilaksanakan oleh Pengageng Pawon Ageng yang dipimpin oleh Nyai Lurah Kebuli dan Nyai Lurah Sekullanggi secara selang seling dengan melibatkan para abdi dalem Kawedanan Pawon. Perlengkapan yang dipersiapkan untuk Numplak wajik ialah lesung lengkap dengan beberapa buah antan untuk gejog lesung wajik beserta tempatnya untuk mengangkut dari tempat memasak ke Magangan. Dipersiapkan pula kain kemben untuk perlengkapan busana gunungan putri, beserta dlingo blenge dan kencur untuk konyoh. Adapun lagu atau gendhing Jawa yang diperdengarkan dengan gejog lesung di dalam upacara ini adalah owal-awil, tundhung setan, gejogan, kebogiro, blendhung jagung, dll. Upacara Numplak Wajik ini dianggap sebagai pertanda awal mula pembuatan gunungan secara formal. Rangkaian sesaji upacara : - Tujuh macam jenang (jenang baro-baro, abang, putih, palang, putih, dsb), - Tujuh macam rujak–rujakan, - Sebuah tumpeng robyong, - Delapan buah ancak berisi nasi (nasi punar, nasi putih dengan lauk pauk, nasi majemuk, nasi hitam, nasi asrep–asrepan, dll), - Sebuah tumpeng gundul, - Satu ambeng berisi nasi uduk beserta lauk pauk, - Abon–abon berujud suruh ayu dan gedhang ayu, - Sepasang Jlupak lengkap dengan ajung–ajungnya, - Toya prajan (sekar leton dan daun dadap serep), - Sebuah empluk berisi beras, - Bawang merah, bawang putih, kemiri, kluwak, sebutir telur ayam mentah, sekeping mata uang logam, - Seekor ayam betina yang masih hidup, - Sebuah ancak berisi jajan pasar. Fungsi wajik ini ialah inti dari Gunungan Wadon tempat menancapkan tangkai mustaka dan tangkai-tangkai perlengkapan yang lainnya misalnya tlapukan, rengginan, dll.