Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTari kethek ogleng - Pacitan, Jawa Timur
Sejarah: Kesenian Kethek Ogleng merupakan tarian khas rakyat yang berkembang di daerah pedesaan Jawa. Asal-usul dari mana dan kapan kesenian ini muncul tdk diketahui dengan pasti. Yang pasti pendukung kesenian ini masyarakat agraris. Kesenian ini berkembang di wilayah Pacitan, Wonogiri, Kediri, dan Gunung kidul. Kesenian Kethek Ogleng menceritakan tentang cerita-cerita Panji yang dikenal sejak zaman Majapahit. Cerita ini kemudian berkembang dengan banyak versi. Di Pacitan pengembang tarian Kethek Ogleng bernama Sutiman (70 th). Sutiman menciptakan tarian Kethek Ogleng sekitar tahun 1962, ketika ia bertani melihat kelincahan kera-kera di hutan. Ia kemudian menciptakan tarian yang gerakannya mirip gerakan monyet yang ia lihat di hutan. Tarian tsb dinamakan ‘kethek ogleng’ yang menunjukan gerakan kelincahan kethek = monyet, dan ogleng menunjuk pada bunyi-bunyian yang mengiringinya berupa gamelan jawa yang bunyinya ‘gleng’, maka kemudian disebut Kethek Ogleng. Kesenian Kethek Ogleng ini kemudian dikenal di Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Pacitan. Pertunjukan ini dipimpin oleh seorang koreografer Ludiro Pancoko S.Sn dengan 40 penari dari Sanggar Tari Giri Budaya. Di daerah Ngadirojo pada tahun 1974 berdiri sebuah sanggar seni Setya Budaya yang dipimpin oleh Samingan (alm) dan Ramlan (alm). Sanggar seni ini khusus mempelajari, melestarikan,mempertujukkan tarian Kethek Ogleng. Tarian Kethek Ogleng terkenal pada era 70-an dan pada tahun 1995 sanggar seni Setya Budaya ini mengalami kemandegan. Pada tahun 2011 sanggar seni Setya Budaya kembali diaktifkan oleh generasi penerus yang masih cinta dan mahir dalam menarikan Kethek Ogleng. Sanggar seni Setya Budaya juga pernah membawakan tarian Kethek Ogleng pada Rabu 10 Oktober 2012 di lapangan Desa Ngadirojo Kecamatan Nguntoronadi dengan 7 orang penari dalam upacara pembukaan TMMD Sengkuyung Angkatan 89 Tahap II tahun 2012. Tarian ini serentak dilaksanakan di 61 kabupaten/kota di daerah terpencil, daerah perbatasan dan daerah rawan bencana untuk mengentaskan kemiskinan dalam menunjang pertanian dan perekonomian masyarakat.Tarian Kethek Ogleng masih sering dipertunjukkan di Desa Tokawi kecamatan Nawangan, Pacitan sebagai salah satu tarian tradisional dan bertujuan untuk menghibur dalam upacara hajatan atau pesta rakyat masyarakat sekitar. Tarian ini juga sering dijadikan hiburan bagi para turis yang mengunjungi pantai Teleng Ria, selain itu tarian ini juga selalu mengiringi karnaval hari jadi kota Pacitan.. Diskripsi: Kesenian Kethek Ogleng diciptakan oleh seorang petani bernama Sutiman dari Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Pacitan. Penari Kethek Ogleng berbalut pakaian serba putih menyerupai sosok wayang Hanoman. Kala itu penarinya Sutiman sekaligus penciptanya. Setahun kemudian setelah Tari Kethek Ogleng tercipta, Sutiman berkesempatan tampil pada lomba desa tingkat kabupaten. Mulai saat itu, tarian karya Sutiman makin dikenal dimana-mana. Bahkan, kelompok tari ini diundang tampil di sejumlah acara resmi kenegaraan. Di Desa Tokawi sendiri, Tari Kethek Ogleng sudah melekat dengan tradisi warga. Tahun 60-an wilayah yang berada di perbatasan dengan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah itu tergolong terpencil. Kethek Ogleng adalah sebuah tari yang gerakannya menirukan tingkah laku kethek (kera). Tarian ini ditarikan oleh masyarakat Desa Tokawi Kecamatan Nawangan bertahun-tahun lamanya. Biasanya tarian ini dipentaskan pada waktu hajatan masyarakat setempat. Tarian Kethek Ogleng berasal dari sebuah cerita Kerajaan Jenggala dan Kediri. Raja Jenggala mempunyai seorang putri bernama Dewi Sekartaji dan Kerajaan Kediri mempunyai seorang putra bernama Panji Asmarabangun. Kedua insan ini saling mencintai. Namun, raja Jenggala, ayah Dewi Sekartaji, ingin menikahkan Dewi Sekartaji dengan pria pilihannya. Ketika Dewi Sekartaji tahu akan dinikahkan dengan laki-laki pilihan ayahandanya ia meninggalkan Kerajaan Jenggala bersama beberapa dayang menuju ke arah barat. Di Kerajaan Kediri, Panji Asmorobangun yang mendengar Dewi Sekartaji hilang memutuskan untuk mencari Dewi Sekartaji. Di perjalanan, Panji Asmorobangun singgah di rumah seorang pendeta. Panji diberi wejangan agar pergi ke arah barat dan harus menyamar menjadi kera. Di lain pihak, Dewi Sekartaji juga telah menyamar menjadi Endang Rara Tompe. Setelah Endang Rara Tompe naik turun gunung, akhirnya rombongan beristirahat di suatu daerah dan memutuskan untuk menetap. Ternyata kethek penjelmaan Panji Amorobangun juga tinggal tidak jauh dari pondok Endang Rara Tompe. Maka, bersahabatlah mereka berdua. Tetapi Endang Rara Tompe belum mengetahui jika kethek sahabatnya itu adalah Panji Asmorobangun, begitu juga Panji Asmorobangun, tidak mengetahui Endang Rara Tompe adalah Dewi Sekartaji. Akhirnya, mereka berdua membuka rahasia masing-masing. Endang Rara Tompe merubah bentuknya menjadi Dewi Sekartaji, begitu juga kethek tersebut merubah dirinya menjadi Raden Panji Asmorobangun. Akhirnya, Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun sepakat kembali ke kerajaan Jenggala untuk melaksanakan pernikahan. Penyajian tarian Kethek Ogleng memperagakan tokoh kera yang lucu, lincah, atraktif dan kadang adegan akrobatik. Tarian diiringi gamelan jawa dan alat perkusi tradisional dengan langgam-langgam jawa seperti gansaran enem, lancaran dan suwe ora jamu laras slendro pathet enem yang dibawakan oleh sindhen. Jumlah penari tergantung dari sanggar tari yang membawakan, tetapi harus tetap ada Kethek Ogleng sbg tokoh utama dan dipadukan dengan beberapa penari wanita yang menarikan tarian jawa.