Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaAsal Mula Dukuh Panggang - Pemalang, Jawa Tengah
Sejarah: - Deskripsi: Setelah masyarakat desa Rowosari mendapat “sinar terang” dari Among Jiwo, maka masyarakatnya mempunyai kegiatan/pekerjaan untuk penghidupan yang berbeda-beda, ada yang bertani ada juga yang berdagang. Masyarakat/penduduk yang bermukim di dukuh Bandaran dan disebelah utaranya karakter jiwanya lebih cenderung ke jiwa bisnis/dagang meskipun ada pula yang berjiwa petani atau kedua-duanya, namun lebih kuat ke jiwa bisnis/dagang dibanding dengan jiwa bertani atau jiwa kaum priyayi (pegawai), dan pada umumnya mereka lebih cenderung berbisnis/berdagang ke dunia hasil perikanan. Dengan penuh kesabaran Among Jiwo memberi penyuluhan/pelatihan di samping ilmu agama, juga ilmu bagaimana caranya menglola ikan agar dapat menghasilkan uang dan keuntungan, apakah dengan cara direbus (pindang), apakah digoreng dan apakah dipanggang? Sebagaian besar masyarakatnya telah mencoba mengelola ikan sebagaimana yang diajarkan oleh Among Jiwo atau para santrinya, akan tetapi yang paling banyak disukai oleh masyarakat sekitar adalah mengelola ikan dengan cara dipanggang (dibakar/ diasapkan), selain yang digoreng atau direbus (pindang) atau dibuat ikan asin, semuanya jika dijual sangat menguntungkan. Oleh karena sebagian besar masyarakatnya kaum pedagang ikan panggang, maka untuk memudahkan penyebutan nama daerah itu oleh Among Jiwo diberi nama Dukuh Panggang. Pengertian kata Panggang adalah cara memasak sesuatu yang dimasakkan dengan cara dikeringkan diatas api, terutama ikan, sehingga pengertian dukuh Panggang adalah suatu tempat atau daerah atau wilayah dimana mayoritas warganya berbisnis/berdagang ikan panggang, sehingga daerah tersbut dinamakan daerah dukuh Panggang. Dukuh Panggang terbagi dari beberapa tempat, yaitu : a. Jaratan artinya kuburan/ makam/kramatan, dahulu didaerah tersebut terdapat/ada kuburan. b. Pleseran dari kata plisir artinya pinggiran atau mleser artinya tempat yang tanahnya miring/menikung/belok secara perlahan, sehingga kata pleseran mengandung pengertian tempat atau daerah pinggiran yang tanahnya miring dan berbelok secara perlahan. c. Sumur artinya perigi, dahulu di daerah tersebut ada sebuah sumur/perigi yang terkenal dan airnya tidak pernah habis meskipun dimanfaatkan oleh masyarakat. d. Wonoroto artinya hutan yang rata/datar, yaitu sebidang tanah yang ditumbuhi oleh pepohonan yang sangat banyak dan lebat, dimana permukaan tanahnya datar atau rata/tidak berbukit-bukit. e. Gatak artinya tanah darat yang agak tinggi ditepi sawah (tanah benteng yang lebar) yang tidak ditanami padi, bisanya ditanami palawija. f. Ngideran : asal kata ider artinya keliling, diideri artinya dilingkari, dinamakan ngideran, karena di daerah tersebut merupakan persawahan yang mengeliling / melingkarai perkampungan. g. Keweden dari kata : o Wedi atau weden artinya takut. o Sehingga kata Keweden mengandung pengertian : ketakutan.