Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaDengklung Al Kafi - Batang, Jawa Tengah
Sejarah: Seni Dengklung , awalnya lahir dan berkembang di wilayah Kecamatan Blado, kemudian berkembang ke Kecamatan Bandar. Kesenian yang dikelompokkan dalam "musik rakyat" ini bernafaskan agama Islam dan dimainkan oleh kaum wanita. Kesenian Dengklung adalah kesenian tradisional Jawa peninggalan nenek moyang ratusan tahun silam, nama aslinya Terbang Jawa/Terbang Jowo, dengan peralatan yang sangat sederhana yang dibuat dari kayu pohon kelapa glugu yang dilubangi sisi kanan dan kiri kemudian salah satu sisi diberi penutup dari kulit hewan (kambing). Alat musik Dengklung terdiri dari 6 buah, yaitu : kempling, bibit, kemung, jkempur, jidur, dan kendang. Lagu yang dinyanyikan diambil dari Kitab Al-Barjanji dan dimainkan oleh laki-laki. Pada tanggal 01 Agustus 1975 ada inisiatif mendirikan kelompok kesenian tradisional Dengklung Al-Kahfi di Desa Bandar yang beranggotakan 25 orang. Kelompok ini tidak hanya beranggotakan laki-laki namun beranggotakan juga ibu PKK. Tujuan pendirian untuk sarana nada dan dakwah di Desa Bandar khususnya dan Kabupaten Batang pada umumnya. Dan seiring dengan perkembangan maka lagu-lagu diselingi dengan dangdut, campursari dan lain-lain. Kesenian Dengklung berfungsi sebagai ritual, hiburan dan dakwah. Pakaian yang dikenakan tradisional Jawa dan busana muslim. Pengalaman pentas di Duta Seni di TMII Jakarta, Malam Jumat Kliwon, Malam Tahun Baru, Batang Expo, dan Duta Seni PRPP Semarang. TMII Jakarta, PRPP Semarang, Taman Maerokoco, dan Borobudur Festival. Kelompok ini mengukir prestasi sebagai Juara II Batang Expo 2007, Juara II Peringatan Kesaktian Pancasila, Juara I Tingkat Eks. Karesidenan Pekalongan, dan Juara I Harapan Tingkat Propinsi Jawa Tengah. Semenjak tahun 2007 sampai sekarang mengalami kejayaan. Faktor penyebab tetap mengalami kejayaan karena setiap pemerintah Kabupaten batang mengadakan hiburan selalu ditampilkan. Disamping itu sering tampil pada acara hajatan warga. Adapun susunan pengurusnya sebagai berikut: Ketua: Kahfi a. Kadir Sekretaris: Miftahuddin Bendahara: Supriyati Anggota: Siti Jauharoh, Siti Sundari, Widayana, Sri Sulastri, Moh. Riyanto, Achmadi Zen, Darliyanto, Zamsori, Suyoso, M. Arif, Kihin Pujiono, Wahyudin, Ernawati, Yunarsih, Herna Tri Yga, Nur Zadah, Murnianingsih, Siti Arisah, Siti Nur Aini, dan Nur Siami. Deskripsi: Kesenian Dengklung merupakan kesenian tradisional kerakyatan yang bernafaskan Islami. Kesenian Dengklung Al-Kafi merupakan perpaduan antara musik Jawa dengan irama Timur Tengah. Alat musik Jawa yang dipertahankan adalah menggunakan kendang buntung, sedangkan ciri Timur Tengah berupa alat musik rebana dan kandungan nafas Islami yang terkandung pada sistem penyajian vokal yang didahului dengan vokalis solo (solis) yang kemudian disahut dengan koor (jamaah) yang dalam bahasa Jawa disebut gerong. Syair yang digunakan pada kesenian Dengklung menggunakan bahasa Arab yang berisi puji-pujian serta kisah kehidupan Rasulullah SAW yang diambil dari kitab Al-Berzanzi atau yang biasa disebut dengan berjanjen. Kesenian dengklung Al-Kafi mengandung refleksi Islami dan makna simbolik yang terdapat pada syair lagu, iringan, gerak tari dan tata busana kesenian Dengklung Al-Kafi desa Bandar. Syair lagu yang digunakan menggunakan Shalawat Badar dan I’tiraf. Refleksi Islami pada kedua syair tersebut tercermin pada bait pertama yaitu selalu menyebut nama Allah pada awal melakukan kegiatan. Makna yang terkandung pada syair Shalawat Badar yaitu bahwa Allah selalu memberikan kasih sayang pada umat-Nya, sedangkan pada syair I’tiraf yaitu tentang permohonan ampun manusia kepada Allah. Alat musik yang digunakan yaitu alat musik rebana yang merefleksikan bahwa rebana adalah alat musik yang biasa digunakan untuk syiar agama Islam. Rebana yang digunakan pada penelitian ini diantaranya adalah kendang, kemung, kempur, bibit, kempling, jidur, dan tamri. Gerak tari pada gerak simpuh merefleksikan niat sebelum melakukan ibadah yang memiliki makna kerendahan diri seorang manusia di hadapan Allah, gerak sembahan merefleksikan kepasrahan diri manusia kepada Allah yang memiliki makna berdoa sebelum melakukan ibadah, gerak njut-njutan merefleksikan keseimbangan antara jiwa dan pikiran yang memiliki makna konsentrasi, kemudian gerak membasuh tangan, gerak berkumur dan menghirup air ke hidung, membasuh muka, membasuh lengan, menyapu kepala, membasuh telinga, membasuh kaki merupakan refleksi dari gerak wudhu yang memiliki makna kesucian atau kebersihan diri, gerak njot-njotan yang merefleksikan keseimbangan antara jiwa dan pikiran yang memiliki makna konsentrasi, dan gerak sembahan penutup yang merefleksikan kepasrahan diri dan memiliki makna seseorang berdoa setelah melakukan ibadah. Tata busana yang digunakan pada kesenian Dengklung Al-Kafi merefleksikan tentang kewajiban seorang muslim yaitu menutup aurat yang memiliki makna kesucian, kedamaian, kebahagiaan, dan ketenangan. Saran yang dapat disampaikan kepada grup kesenian Dengklung Al-Kafi hendaknya dapat berupaya untuk menggali generasi muda untuk mengembangkan kesenian Dengklung Al-Kafi agar tidak punah dan lebih dikenal oleh masyarakat luas. Bagi masyarakat desa Bandar Masyarakat hendaknya turut berpartisipasi dengan berapresiasi, memberikan saran dan kritik yang membangun perkembangan kesenian Dengklung Al-Kafi agar lebih dicintai oleh masyarakat karena kesenian dengklung merupakan kesenian yang berdampak positif bagi penikmatnya. Bagi Pemerintah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata hendaknya lebih memperhatikan potensi yang ada pada kesenian Dengklung dengan mensosialisasikan kepada masyarakat Batang pada umumnya dan generasi muda pada khususnya.