Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Tradisional Mendhak, Jawa Timur/Nyanggring - Lamongan, Jawa Timur
Sejarah : Mengenai asal-usul dan kapan di mulai upacara Mendhak. Belum di temukan sumber tertulis yang membahas maslah ini. Menurut informasi hanya menyebutkan bahwa upacara ini tidak dapat di pisahkan Ki teuk, yang merupakan tokoh pertama atau cikal bakal masyarakat Desa Tlemang. Konon Beliau masih termasuk kelurga Mataram. Menurut keterangan warga masyarakat Desa Tlemang, siapa sebenarnya ada dua versi. Pertama, Ki Teik dulunya bernama Raden Nurlali, Beliau meninggalkan kerajaan Mataram karena campur tangan belanda terhadap Mataram. Dalam pengembaraannya setelah bersama dengan Sunan Giri di Gresik, menyebarkan agama islam sampai di daerah Lamongan. Kedua, Ki Tesik pada masa mudanya bernama Raden Panji Pulio. Setelah terjadi konflik dengan keluarga, beliau mengembara dan berhasil membuka hutan di wilayah Desa Tlemang sekarang. Beliau di angkat menjadi pemimpimmya. Terlepas kedua versi tersebut, meskipun Ki Terik Mendhak tiada, beliau tetap di hormati dan sebagai cikal bakal Desa Tlemang. Deskripsi : Istilah Mendhak, berasal dari istilah bahasa Jawa yang mempunyai arti memperingati ulang tahun kematian bagi seseorang. Dalam upacara ini dalam rangka memperingati hari Wisudanya Kaki Terik sebagai pemimpin warga masyarakat Tlemang. Upacara ini ada kegiatan yang unik yaitu sajian khusus berupa sayur Sanggring, yaitu masakan khusus daging ayam dan kelapa yang di masak oleh laki-laki dengan bumbu seadanya dalam upacara ada du kegiatan yaitu yang bersifat menyertai upacara dan kegiatan yang bersifat upacara. Maksud dan tujuannya untuk menyatakan rasa syukur kepada tuhan YME atas keselamatan dan rejeki yang di terima masyarakat Desa Tlemang. Selain itu, untuk memperingati hari Wisuda KI Terik waktu di angkat menjadi pemimpin masyarakat Desa Tlemang. Upacara ini di laksanakan setahu sekali setiap bulan jimadilawal (24-27). Mengenai tempatnya di Sendhang Wedok dan Lanang, mekam Ki Terik, rumah kepala desa. Upacara ini sebagai salah satu wujud budaya daerah yang berfungsi untuk memperkenalkan nilai-nilai luhur, norma-norma dan keyakinan secara simbolik. Arti penting upacara ini, sebagai rasa syukur kepada Tuhan YME, melestarikan kesenian tradisional, sebagai obyek wisata, pelestarisn sumber air dan memupuk jiwa sosial.