Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Makna Ritual Upacara Kasada/Hari Raya Kasada - Pasuruan, Jawa Timur |
Sejarah : Upacara Ritual Kasada ini terkait kepercayaan masyarakat mitos sepasang suami-isteri (Rara Anteng dan Joko Seger) sebagai asal-usul pertama penghuni daerah ini. Sepasang suami-isteri lama belum mempunyai anak, sehingga berupaya untuk memiliki anak sebanyak-banyaknya dengan bersemedi memohon Hyang Widhi. Di Watu Kuta. Mereka berjanji bila mempunyai anak 25 orang, salah satu anaknya akan dijadikan kerbau. Pemahaman tersebut dikabulkan sampai mempunyai 25 anak. Karena janjinya itu, salah satu anaknya yang disayang putra bungsu bernama Raden Kusuma tiba-tiba hilang ditelan jilatan api yang keluar dari Kawah Gunung Brama. Untuk mengenang hilangnya Raden Kusuma, sepanjang masa memakai keselematan ke Hyang Widhi dengan mempersembahkan korban ke Gunung Bromo berupa hasil bumi dan hewan peliharaan, setiap Bulan Kasada.
Deskripsi : Upacara Kasada merupakan salah satu upacara adat masyarakat suku tengger termasuk di Desa Wonokitri. Upacara yang dikenal dengan hari raya Kasada diperingati setiap tanggal 15 malam 16 bulan Purnama pada bulan ke 12 (Kasada) menurut perhitungan kalender masyarakat Tengger. Kegiatan Upacara Kasada meliputi beberapa tahapan, mulai dari persiapan sampai pelaksanaan. Tahapan tersebut mulai kerja bakti: mendhok tirta (mengambil air tiga hari sebelumnya ke Gunung Widodaren, membuat penjol, memasang umbul-umbul, membuat bak. Kegiatan ini ada pembagian tugas antar desa, misalnya Wonokitri kerja bakti, Tosari amben untuk sesaji. Tempat upacara dulu di Poten (laut Pasir, sekarang di Pure). Bagi masyarakat setempat upacara ini memiliki nilai sakral bagi kehidupan mereka. Upacara ini tidak hanya dilaksanakan umat Hindhu, tetapi diikuti agama lain. Upacara yang sakral, unik dan sarat dengan religi dikenal masyarakat luas, bahkan moment tersebut dijadikan sebagai obyek wisata budaya.